author photo
Banyak dari kita pernah mengalami pacaran ataupun saat ini masih pacaran. Memang saat kita mengalami atau merasakan pacaran dunia terasa milik berdua, hal ini dikarena disatukan oleh cinta. Cinta kepada lawan jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia, karena cintalah keberlangsungan hidup manusia terjaga dengan baik. Namun, fenomena dalam mewujudkan sebuah cinta saat ini jauh melenceng dari syariat Agama maupun norma yang berlaku terutama oleh generasi muda yang berlangsung secara turun - temurun.

Teringat petuah adat Melayu Jambi yang mengatakan " Rumah sudah dibuat bagus, namun masih bertamu di hutan ". Tentunya miris melihat kondisi saat ini seperti yang tergambar pada petuah tersebut.

Sebenarnya pacaran itu memiliki makna yang baik apabila sesuai dengan definisi dari wikipedia yaitu "Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan". Pacaran dalam Agama Islam pun diperbolehkan asalkan sekedar melakukan nazhor (melihat calon istri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya), itu dianggap sebagai pacaran. Atau setidaknya, diistilahkan demikian.

Namun, maksud yang terkandung dalam kata pacaran disalah artikan oleh generasi muda yaitu dengan ditandai aktifitas - aktifitas yang seharusnya dilakukan setelah menikah. Tradisi seperti itu sudah menjadi rahasia umum bahkan mereka tidak menyadari bahwa akan merugikan masa depan mereka terutama bagi perempuan. Tidak sedikit akibat pacaran mereka menjadi putus sekolah, hilang cita - cita, bahkan nikah muda. Disamping itu, terdapat istilah dari pada berzina lebih baik menikah namun perlu disadari apakah pernikahan diusia muda atau sangat muda akan memberikan hal positif bagi kita. Karena tidak sedikit pula nikah muda berujung perceraian.

Disamping itu, pacaran juga memberikan dampak positif tersendiri seperti mendapatkan perhatian lebih, mudah membuang keluhan, ada pendengar setia, menjadi semangat, ada yang mentraktir makan, dll. Namun sebaliknya pacaran juga memberikan dampak negatif tentunya merugikan kita yaitu, mengurangi waktu, menghambat kinerja otak, berbohong, menghabiskan uang, menghambat cita - cita, menimbulkan syahwat, sakit hati, galau, dan memutus silaturahmi.

Tidak sedikit tulisan yang melarang adanya pacaran karena terlalu banyak menimbulkan kesan negatif. Bahkan lebih kerennya agar dihalalkan terlebih dahulu hubungan seseorang dengan cara menikah baru melakukan pacaran.

Banyak generasi muda kadangkala melabeli diri mereka dengan "Pacaran Islami" dalam artian tidak berdua - duaan ditempat sepi, melakukan aktifitas yang mengundang syahwat ataupun berzina. Pacaran Islami (Ta'aruf) tentunya memiliki batasan yang sangat ketat dan harus disikapi dengan dewasa dan bijak. Bahkan parahnya, orang tua beranggapan pacaran itu boleh asalkan wajar - wajar saja dan jaga diri masing - masing. Coba kita renungkan, apakah itu berhasil menghindarkan kita dari hal yang berbau zina atau dibenarkan menurut agama?

Oleh sebab itu, Allah S.W.T berfirman “ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro' : 32). Maka dapat kita simpulkan bahwa setiap jalan (perantara) menuju zina adalah suatu yang terlarang. Ini berarti memandang, berjabat tangan, berduaan dan bentuk perbuatan lain yang dilakukan dengan lawan jenis karena hal itu sebagai perantara kepada zina adalah suatu hal yang terlarang sudah pasti hadiahnya adalah Neraka.

Bila kemudian pacaran menghantarkan pada perbuatan yang dilarang maka tepatkah ada istilah "Pacaran Islami". Pacaran dalam islam (Ta'aruf) ini, ada banyak batasannya. Batasan dalam berpacaran menurut hukum islam diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kita kepada perbuatan zina,
2. Tidak menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya karena sudah ada hukum islam nya.
3. Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, karena mengakibatkan munculnya hawa nafsu.
4. Harus menjaga mata atau pandangan kita ke pandangan yang mengarah pada timbulnya hawa nafsu.
5. Menutup aurat sangat diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya.

Selagi batasan Ta'aruf (pacaran dalam islam) di atas tidak dilanggar, maka pacaran dalam islam seperti yang dijelaskan di atas hukumnya boleh. Tetapi persoalannya sanggupkah pacaran tanpa berpandang-pandangan, berpegangan, bercanda ria, berciuman, dan lain sebagainya.

Maka alangkah baiknya di masa muda dihabiskan dengan hal yang bermanfaat untuk menunjang kesuksesan serta membahagiakan orang tua. Apabila, kita terlalu mencintai seseorang maka menikahlah atau terapkan Ta'aruf dengan baik dan benar.

Ditulis Oleh : Slamet Setya Budi
Sekretaris PMI Kabupaten Tebo dan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Muara Bungo

SILAHKAN KOMENTAR 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post