author photo
Pohon jernang yg mulai berbuah 
NEWSPORTAL.ID - Pengendum Tampung, Pemuda  Rimba atau Suku Anak Dalam  Makekal hulu Bukit 12, Beberapa hari terakhir tampaknya sedang bersuka cita, Sebab, tanaman dragon blood atau jernang yang ia tanam sudah menampakkan hasil, Wujud dari kebahagiaan itu kemudian ia unggah melalui facebooknya hari ini (11/3) berupa foto-foto tanaman jernang yang sudah mulai berbuah.

"Yang berbuah ini umurnya sekitar 2 tahun 4 bulan, jenisnya jernang simpoy atau jernang burung, kami menanamnya disela kebun karet sendiri di Makekal hulu,"ujar Pengendum saat di konfirmasi newsportal hari ini (11/3/2018).

Makekal Hulu adalah wilayah komunitas orang rimba atau SAD yang memiliki populasi terpadat di Bukit 12, Sejak tahun 2000 wilayah ini terintegrasi menjadi Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) disisi bagian barat.

Menurut Pemuda asli rimba Makekal Bukit 12 ini, Dua tahun terakhir rata-rata warga di daerah mereka sudah fokus menanam jenis tanaman yang terbilang mulai langka ini, Selain memiliki harga ekonomis yang cukup tinggi jernang juga merupakan tanaman asli hutan setempat yang bisa di budidaya disela kebun karet.

"Jarak tanamnya sekitar 2 meter jadi untuk satu hektarnya bisa mencapai ribuan pohon, kami disini rata-rata sudah menanam (Budidaya) jernang di kebun karet masing-masing,"ujar Pengendum memaparkan.

Hebatnya lagi, ide dan gagasan budidaya jernang juga mereka lakukan dengan usaha pembibitan yang mereka bikin sendiri, bahkan, hasil pembibitan yang mereka lakukan juga sudah banyak yang membeli baik dari sesama komunitas hingga warga sekitar.
Foto bibit jernang siap tanam 
"Kalau jenis yang kami bibitkan ada dua macam yaitu jernang burung dan jernang super, harganya kalau jernang burung cuma 20 ribu perpohon dan 250 ribu untuk jernang super, Sudah banyak yang beli tapi untuk jernang super banyak yang tidak sanggup karena harganya memang mahal,"katanya menguraikan.

Sementara untuk pola dan harga jual terhadap buah jernang ini menurut Pengendum tak perlu diragukan lagi, karena sejauh ini sudah cukup banyak pengepul di desa-desa hingga kota yang mencari dan membelinya.

Untuk jenis jernang burung, kata Pengendum, kebanyakan dijual dalam bentuk biji dan tangkainya, selain itu ada juga yang menjual dalam bentuk serbuk atau getah melalui penumbukan secara manual.
Buah jernang 
"Jernang burung yang masih dalam bentuk biji dan tangkainya dibeli oleh pengepul Rp50 ribu perkilonya, kalau dalam bentuk getah bisa mencapai 2 juta rupiah. Dan untuk jernang super bisa Rp5 juta perkilonya, itulah yang membuat harga bibitnya juga mahal" terang pria beranak satu ini.

Perbedaan harga yang jauh ini ternyata memiliki alasan tersendiri, diantaranya volume buah dan metode pengolahan. Kalau jernang burung menurut Pengendum buahnya terbilang rutin seperti buah kelapa atau sawit, sedangkan jernang super buahnya hanya satu kali dalam setahun.

Kemudian metode pengolahan untuk menjadi getah warganya rata-rata masih menggunakan cara manual yaitu menumbuk dengan alat tradisional. Sementara untuk hasil getah yang baik kabarnya ada mesin khusus untuk menghasilkan getah lebih cepat dan mudah. Ketiadaan mesin pengolah menjadi alasan kenapa komunitas lebih dominan menjual jernang dalam bentuk mentah atau biji.
Getah jernang yg sudah ditumbuk 
"Nanti kalau jernang yang kami tanam disini sudah berbuah semua mungkin perlu kita pikiran mesin pengolahannya, kalau sekarang kami masih menumbuk secara manual," ujar Pengendum.

Saat ini, komunitas orang rimba di Makekal Hulu sepertinya tampak makin semangat menguatkan komitmennya untuk melestarikan budidaya jernang sebagai tanaman asli hutan yang bernilai tinggi dan banyak manfaat ini (P03)
Pengendum dengan pakaian tradisinya 

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post
HUKRIM (614) NEWS (401) SOROT (329) KERJA (119) OPINI (102) WARKOM (70) ARENA (60) WISBUD (24) EDUKASI (20) LENSA (15) POLITIK (14) SENI (11) EKOBIS (9) JEJAK (9) KREATIF (2)