author photo
PHOTO : Koko saat eksperimen mendaur ulang sampah plastik menjadi minyak.
NEWSPORTAL.id, TEBO - Luar biasa! Forum Komunikasi Hijau (FKH) Tebo Kotaku, Kabupaten Tebo, mampu mendaur ulang sampah plastik menjadi minyak. Yang sangat terkesan, sampah pelastik tersebut diolah dengan alat yang sangat sederhana dan bisa menghasilkan 3 Jenis minyak yakni premium, solar dan minyak tanah.

Sekretaris FKH Tebo Kotaku, Koko Hadiwana menjelaskan daur ulang sampah plastik menjadi minyak dilakukan dengan sistem distilasi atau penyulingan.

Sampah plastik seberat 150 gram diolah dengan alat seadanya dan berhasil menghasilkan minyak sekitar 50 mili liter.

“Alatnya kami buat sendiri pakai tungku bakar sederhana. Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Tinggal pengembangan tuk menaikan oktan dan penjernihan sekelas minyak tanah, solar atau bensin dengan campuran kimia,”kata Koko sapaan Koko Handiwana, Sabtu sore(12/01).

Menurut Koko, eksperimen yang dilakukannya ini adalah salah satu upaya untuk mengelola limbah domestik yang selama ini menjadi persoalan hampir disetiap daerah, termasuk Kabupaten Tebo.

Koko mengaku jika saat ini dia bersama FKH Tebo Kotaku tengah membuat pilot project Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Produktif. Pilot project ini diharapkan bisa mengatasi persoalan sampah yang ada di wilayah Tebo.

“Hasil inventarisasi kita tahun 2018 kemarin, ternyata produksi sampah di Tebo rata-rata sekitar 3 ton perhari. Kalo dikalikan dalam sebulan Tebo menghasilkan sampah sebanyak 900 ton. Itu sampah yang berhasil diangkut oleh petugas angkut sampah,”jelas Koko.

“Jadi bayangkan saja berapa produksi sampah di Tebo per tahunnya. Kalo ini tidak dikelola sejak dini, ini akan menjadi persoalan seperti di kota-kota besar, “kata Koko lagi.

Di Tebo, lanjut Koko, persoalan sampah sudah mulai menuai sorotan. Bahkan dibeberapa titik di kota Tebo, tampak tumpukan sampah menumpuk dan terkesan jarang diangkut oleh petugas angkut sampah. “Ndak tau apa alasannya mengapa petugas terkesan jarang mengangkut sampah. Mungkin saja karena kekurangan petugas atau memang kekurangan biaya operasional, “ucapnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, Koko bersama rekan-rekan FKH Tebo Kotaku mencoba mencari solusi dengan mengelola sampah menjadi minyak. Bahkan, dari hasil diskusikan bersama rekan-rekan FKH, sampah tersebut bisa juga diolah menjadi gas.

Tidak itu saja, lanjut Koko, dari hasil analisa FKH, hasil dari pengelolaan sampah berupa minyak dan gas ini, bisa dijual dan digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tentunya dengan harga yang lebih murah dari harga pasaran. “Teman-teman FKH juga optimis jika sampah ini dikelola dengan baik, mampu membuka peluang kerja bagi masyarakat. Soalnya butuh banyak tenaga kerja untuk mengelola sampah menjadi minyak dan gas,”ujarnya.

“Selain bakal membuka peluang kerja bagi masyarakat, tentunya pengolahan sampah ini menguntungkan pemerintah. Karena selain persoalan sampah teratasi, juga bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), “tutupnya.

Sementara, Kordinator FKH Tebo Kotaku, Robi Harja mengatakan, keberhasilan eksperimen FKH Tebo Kotaku, Kabupaten Tebo mendaur ulang sampah plastik menjadi minyak adalah salah satu perwujudan dari program Pengembangan Kota Hijau (PKH).

Dijelaskan Robi, berawal dari keinginan rekan-rekan FKH untuk mengembangkan perwujudan program pengembangan PKH, FKH Tebo Kotaku di sektor atribut Green Waste, yaitu pengelolaan limbah dan sampah melakukan eksperimen terhadap sampah plastik yang saat ini menjadi problem hampir disetiap kota besar, termasuk Kabupaten Tebo.

“Terinspirasi dari prototipe yang telah dibuat oleh FKH Nusantara, FKH Tebo Kotaku berkonsultasi secara periodik untuk mendapatkan referensi dalam pengembangan dan uji konversi plastik menjadi minyak, “kata Robi.

“Berkat bimbingan rekan-rekan FKH juga FKH Nusantara, dan dengan peralatan seadanya, alhamdulillah FKH Tebo Kotaku berhasil melakukan konversi dari kantong kresek menjadi minyak atau yang kita sebut minyak sintetis, “kata Robi lagi.

Dengan mekanisme kerja sangat sederhana, minyak sintetis yang dihasilkan mirip dengan solar atau minyak tanah, "Tentu ini perlu pengembangan teknologi serta sarana yang cukup agar bisa dikembangkan menjadi BBM yang siap digunakan untuk publik,"ujarnya.

Dari hasil eksperimen, lanjut Robi, dengan 30 lembar kantong kresek atau kantong plastik dapat menghasilkan kurang lebih 50 ml minyak.

“Harapan kita, ekperimen ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik sebagai salah satu kebijakan strategi daerah dalam hal pengelolaan sampah,”harapnya.

Menurut Robi, dengan eksperimen dan pengembangan teknologi nantinya ada 2 permasalahan dapat terjawab yakni, masalah sampah yang dapat diputus dalam skala rumah tangga, dan energi alternatif yang dapat dikonsumsi oleh publik.

Selanjutnya Robi mengatakan bahwa FKH Tebo Kotaku saat ini tengah mendirikan sebuah perusahaan limbah daerah. Kedepanya perusahaan limbah daerah ini bisa menjadi sebuah badan usaha, tentunya yang berbadan hukum dan dapat bekerja sama dengan pihak investor luar dalam pengembangan dan pengelolaan sampah dan limbah di daerah. “Sekarang kita tengah mengurus perizinan untuk perusahaan limbah daerah. Kita berharap Pemkab Tebo mendukung program dan rencana kita ini, “tutup Robi. (sya)

SILAHKAN KOMENTAR 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post