Kisah Orang Kayo Hitam Jatuh Hati Kepada Mayang Mangurai

Kisah Orang Kayo Hitam Jatuh Hati Kepada Mayang Mangurai

Thursday, May 5, 2016, May 05, 2016
Peta situs Orang Kayo Hitam/Kemdikbud
NEWSPORTAL.id- Dengan hati-hati Temengung menjawab bahwa persoalan ini belum dapat diputuskannya, “Setidaknya perlu waktu untuk berunding” jawab Tumenggung Kemantan. Setelah mendengar jawaban Temenggung Temantan Rangkayo Hitam segera mohon diri dari hadapannya, dan kembali ketempat peristirahatan. Temenggung Temantan lalu pergi menghadap kepada Raja Tembesi, Temengung Merah Mata.

Menyampaikan keseriusan Rangkayo Hitam yang ingin meminang Puteri Mayang Mangurai untuk dijadikan isteri. Dengan hati-hati Temenggung Merah Mata berkata kepada adiknya Tumenggung Temantan.

“Wahai Temenggung Temantan, Bagaimana mungkin kita akan menerima Orang Kayo Hitam sebagai menantu?, Tidak sedap kita dudukkan Ia dengan anak kita Puteri Mayang Menggurai. Ibarat siang dan malam, kecantikan dan keelokan Mayang tidak pantas didudukkan sebagai isteri Rangkayo yang buruk rupa”, tutur Tumenggung Merah Mato, Raja Tembesi.

Melihat gelagat Temenggung Merah Mata yang berat untuk menerima Rangkayo sebagai menantu, Berkatalah Temenggung Temantan, “Wahai Raja Tembesi yang bijaksana, dalam hal lamaran Rangkayo ini kita tidak perlu buru-buru memberi jawaban, kita pikirkan cara sebaik-baiknya untuk memutuskan, Apakah kita tolak lamarannya atau kita terima, dan untuk itu adinda meminta waktu sekitar tiga hari”. jawab Tumenggung Kemantan.

Setelah berunding dengan semua sanak keluarga dan kerabat dekat, maka didapatlah keputusan bahwa lamaran Rangkayo diterima oleh pihak Mayang mangurai. Karena kalau ditolak tentulah akan terjadi salah paham apalagi keluarga raja tembesi sudah mengetahui siapa Rangkayo Hitam, dan siapa ibu dan bapaknya. Terlebih semua orang tau Rangkayo adalah pemuda yang sakti dan rendah hati, jadi keputusan untuk menerima lamaran itu adalah benar.

Temenggung merah mato memerintahkan temenggung temantan segera menemui Rangkayo Hitam untuk menyatakan lamarannya akan diterima jika dapat memenuhi syarat yang sudah ditentukan yaitu, emas selesung pesuk, seruas buluh talang, selengan baju, dan kepala tungau nan segantang ulang alik.
Bila Rangkayo tidak dapat memenuhi adat ini maka lamarannya akan ditolak. Dengan cara ini diharapkan Rangkayo Hitam tidak berkecil hati dan tidaklah Ia mendendam.

Setelah sampai waktu yang dijanjikan (tiga hari) maka datanglah Rangkayo hitam menghadap Temenggung Temantan  untuk menanyakan perihal lamaranya.
Dipenghadapan temenggung Temantan Rangkayo duduk memberi sembah dan salah, seraya bertanya, perihal keinginan dan permintaannya untuk melamar Puteri Mayang Mangurai.

Temenggung Temantan tersenyum dan tertawa seraya berkata dengan lemah dan lembut. “Bersabarlah ananda Rangkayo, tidaklah baik terburu-buru karena akan hilang jejak buruan, dari negeri yang ananda tuju ini pastilah tercapai apa yang ananda harapkan”.

Mendengar seloko Temenggung Temantan itu senanglah hati Rangkayo Hitam, yang mana sebelumnya dia telah menduga jika lamaranya akan diterima.
Dengan segera pula dia bertanya, “Wahai mamanda yang bijaksana, alangkah senang hati ananda, katakanlah kepada ananda apakah permintaan Puteri Mayang Mengurai sebagai mahar dan mas kawinnya?”.

Temenggung Temantan berkata, “Ananda yang dihormati disudut negeri beradat serta sopan menghadap, ketahuilah bahwa semua keinginan dan tujuan ananda telah mamanda sampaikan dihadapan semua ahli waris dan saudara Puteri Mayang Mengurai. Semuanya sepakat menerima lamaran ananda dengan syarat ananda harus mengadakan emas selesung pesuk, seruas buluh talang  dan selengan baju, serta satu gantang kepala tungau ulang alik, demikianlah permintaan ahli waris yang sesuai dengan adat negeri,” terang Tumenggung Temantan.

“Sudah buruk karena memakai, sudah habis karena dimakan, sudah bersesap berjerami, sudah berdandan karena terpaku, jurang bertitian teras, tebing bertangga batu, jalan berambah yang diturut, baju berjahit yang dipakai, begitulah adat di negeri Tembesi” Lanjut Tumenggung Temantan.

Menjawablah Rangkayo Hitam, “Wahai, mamanda Temenggung Temantan, Ananda ini orang miskin lagi pula buruk rupa, Tiada yang dipandang dan tiada pula yang dapat diharap, namun ananda berpantang surut dari semua pinta, semua rintis dan rambah akan ananda turut, titian teras akan ananda naiki, baju berjahitlah yang akan ananda pakai, untuk itu ananda mohon diberi waktu beberapa bulan dalam mengumpulkan dan mencari sekalian barang yang dipinta”.

Rangkayo diberi tempo selama enam bulan untuk mencari dan mengumpulkan semua syarat yang seperti yang sudah disampaikan diatas. “Baiklah Mamanda, Ananda mohon izin meninggalkan negeri untuk pulang ke Tanjung Jabung.”

Sumber :djambi.co (Riwayat asal ditemukannya Tanah Pilih oleh Rd Abdullah, 1996)


TerPopuler