Jalan Padang Lamo Hancur, GEMAKATO Tebo Murka: 7 Wakil Rakyat Dinilai Membisu
NewPortal - Penderitaan masyarakat di sepanjang Jalan Padang Lamo, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, kian tak tertahankan. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi justru berubah menjadi simbol kelalaian lubang menganga, lumpur mengendap, dan harapan yang terus terkubur.
Ketua Umum GEMAKATO Tebo, Rengki Delfika, meluapkan kemarahan yang tak lagi bisa dibendung. Ia menilai kerusakan Jalan Padang Lamo telah melewati batas kewajaran, terlebih di tengah kepemimpinan gubernur yang telah memasuki periode kedua. Namun ironisnya, kondisi ini justru terus menjadi komoditas politik saat musim kampanye.
“Ini bukan lagi soal sabar, ini soal pembiaran. Dua periode kepemimpinan, tapi jalan ini makin hancur. Jalan Padang Lamo hanya dijadikan bahan jualan politik. Setelah suara didapat, rakyat kembali ditinggalkan,” tegas Rengki dengan nada tajam.
Sorotan paling keras diarahkan kepada tujuh wakil rakyat asal Tebo di DPRD Provinsi Jambi. Dari jumlah tersebut, empat orang bahkan duduk di posisi strategis Badan Anggaran (Banggar), lembaga yang seharusnya menjadi kunci dalam memperjuangkan pembangunan daerah. Namun, bagi Rengki, keberadaan mereka tak lebih dari formalitas tanpa keberpihakan nyata.
Ia menyinggung nama-nama yang bukan orang baru dalam dunia politik: Mazlan (mantan Ketua DPRD Tebo), Ansori (mantan aktivis vokal), Sukandar (mantan Bupati Tebo), serta Suwarno (anggota dewan dua periode). Dengan pengalaman panjang tersebut, Rengki menilai mustahil mereka tidak memahami persoalan dan solusi.
“Mereka ini bukan orang baru, bukan orang yang tidak tahu. Tapi hari ini, mereka memilih diam. Diam melihat penderitaan rakyat. Diam melihat jalan hancur. Ini bukan lagi ketidaktahuan, ini pembiaran. Bahkan bisa disebut: buta dan tuli terhadap jeritan rakyatnya sendiri,” lanjutnya tajam.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa dampak dari kerusakan Jalan Padang Lamo bukan sekadar soal akses, tetapi telah melumpuhkan denyut ekonomi masyarakat. Aktivitas terhambat, distribusi tersendat, dan peluang usaha mati perlahan.
“Kalau jalan utama saja hancur, bagaimana ekonomi mau tumbuh? Ini bukti nyata kegagalan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Rakyat di sepanjang jalan ini seperti dibiarkan berjalan sendiri tanpa arah,” tutup Rengki.(MF).

Posting Komentar