Anak Orang Rimba dari Pedalaman TNBD Daftar ke SMAN 3 Tebo, Ayah: Jangan Sampai Anak Saya Tak Sekolah Seperti Saya
![]() |
| Begaya saat mendaftar di SMAN 3 Tebo. |
NEWSPORTAL.id – Tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan membawa Begaya, remaja dari komunitas Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba, mendaftarkan diri ke SMAN 3 Tebo melalui jalur afirmasi.
Pada Selasa (9/6/2026), Begaya bersama ayahnya, Jam, mendatangi SMAN 3 Tebo untuk mengikuti proses pendaftaran sekaligus melengkapi berkas yang diperlukan.
"Sudah daftar bang, tadi dibantu panitia pendaftaran," kata Begaya, Rabu (10/6/2026).
Begaya berasal dari kelompok Temenggung Ngadap yang bermukim di kawasan Makekal Ulu, wilayah Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Desa Tanah Garo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo.
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat SMP, ia bertekad melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
SMAN 3 Tebo dipilih karena dinilai memiliki kualitas pendidikan yang baik dan banyak menorehkan prestasi. Ia berharap dapat menjadi bagian dari sekolah tersebut.
"Semoga saya diterima dan bisa sekolah di SMAN 3 Tebo," ujarnya.
Perjalanan menuju sekolah impian itu tidak mudah. Dari tempat tinggalnya di pedalaman, Begaya harus menempuh perjalanan sekitar empat jam menggunakan sepeda motor untuk mencapai lokasi sekolah. Kondisi jalan yang rusak dan berlubang menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Bagi sang ayah, melepas anak bersekolah jauh dari keluarga bukan perkara ringan. Namun, keinginan besar Begaya untuk menuntut ilmu membuatnya mengesampingkan berbagai kekhawatiran.
Jam mengaku telah berkoordinasi dengan Yayasan Orang Rimba (ORIK) yang akan membantu mendampingi dan mengurus kebutuhan anaknya selama menempuh pendidikan di Tebo.
"Saya sudah koordinasi dengan ORIK. Alhamdulillah mereka siap membantu mengurus anak saya selama sekolah di Tebo. Jadi saya lebih tenang," katanya.
Dengan mata berbinar penuh harapan, Jam berharap anaknya bisa lolos seleksi dan mendapatkan kesempatan belajar di sekolah yang diidamkan.
"Cukup saya yang tidak sekolah. Jangan sampai anak saya juga tidak mendapatkan pendidikan hanya karena saya takut melepasnya jauh dari rumah. Semoga dia diterima dan bisa mengikuti pendidikan dengan baik," ucapnya.
Kisah Begaya menjadi gambaran bahwa semangat untuk meraih pendidikan dapat tumbuh dari mana saja, termasuk dari tengah rimba. Di tengah keterbatasan akses dan jarak yang jauh, harapan untuk masa depan yang lebih baik tetap menyala melalui pendidikan.***

Posting Komentar