Kisah Petani di Jambi, Tinggal di Gubuk Reyot Berhasil Sekolahkan Anaknya Hingga Sarjana
Saat dikunjungi media ini, kondisinya terlihat sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, gubuk yang ditempatinya untuk tinggal terlihat reyot dan tidak layak huni. Namun terlihat wajah ceria dari pasangan suami istri tersebut.
Kepada NEWSPORTAL.id, sang suami bercerita jika sehari-hari mereka bekerja sebagai petani sawit dan karet. Meski kebun yang mereka kelola adalah milik sendiri, namun hasilnya belum produktif. Hal ini membuat mereka terpaksa hidup seadanya demi bisa sekolahkan anaknya.
"Kemauan anak saya untuk sekolah sangat tinggi. Jadi harus saya dukung. Yang jelas apapun akan saya lakukan demi anak," kata Yurisman tampa beban.
Yurisman berkata, tidak pernah terbayangkan jika anaknya itu bisa melanjutkan sekolah hingga jenjang seterata 1 (S1) jurusan Ilmu Keperawatan Universitas Dehasen, Bengkulu. Apalagi sampai meneruskan Profesi Ners di Bandung.
Semua itu terwujud, kata dia, dengan modal nekad demi keinginan anak untuk bisa meraih gelar sarjana. "Dengar keinginan anak hendak kuliah justru saya dan istri jadi semangat. Kami bertekad harus bekerja giat demi mewujudkan cita-citanya," kata dia.
Awal anaknya masuk kuliah, cerita Yurisman, dia bersama istri mulai menanam kopi dilahan seluas 2 Ha. Disela kopi ditanami sayur-sayuran dan cabe rawit. "Kami juga menanam padi dan nilam," ujarnya.
Hari yang sangat berat kata dia, disaat awal dia bersama istri menanam kopi. Mereka harus berjuang untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, juga untuk biaya kuliah anaknya. "Dua tahun lebih harus hidup apa adanya. Alhamdulillah, setelah kopi bisa dipanen, baru sedikit lega," katanya lagi.
Hal ini dibenarkan oleh sang istri, Nursonalia (54). Dia menyebutkan memang tidak mudah bisa kuliahkan anak hingga sarjana. Harus pumya niat yang kuat, bekerja keras dan hidup seadanya, "Walaupun tinggal di gubuk reot tidak masalah, yang penting ada beras, tembakau dan garam. Itu sudah cukup, Kita utamakan bisa mengirim biaya kuliah untuk anak agar Kuliahnya tidak terganggu," ujar dia.
Salah seorang tetangga Yurisman, Mariono (56) mengaku salut dengan perjuangan Yurisman dan istrinya, Nursonalia." memang mereka pekerja keras. Terkadang malam pun mereka masih bekerja,"ucap dia. (hen)

Posting Komentar