Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

16 Tahun Vakum, Sri Wahyuni Kembali Menyapa Dunia Seni: Karya Lahir dari Jiwa, Bukan Sekadar Pasar

Ilustrasi IA.

YOGYAKARTA, NEWSPORTAL.ID
– Setelah sekitar 16 tahun vakum dari dunia seni rupa, Sri Wahyuni atau yang akrab disapa Anie kembali menapaki jalan berkesenian yang pernah dijalaninya sejak menjadi mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1999.

Kembalinya Sri Wahyuni bukan sekadar tentang kembali membuat karya. Baginya, momentum tersebut menjadi perjalanan untuk membangkitkan kembali jiwa kreatif yang sempat “tertidur” selama bertahun-tahun.

Dalam refleksinya bertajuk “Obrolan Seni dari Jiwa yang Tertidur Selama 16 Tahun”, Sri Wahyuni mengenang masa awal perkuliahannya di ISI Yogyakarta. Saat itu, perkembangan teknologi digital belum seperti sekarang.

Informasi mengenai seni rupa masih banyak diperoleh melalui buku, majalah, katalog pameran maupun percakapan langsung dengan sesama seniman.

Menurutnya, keterbatasan akses informasi pada masa itu justru memberi ruang yang lebih besar bagi seniman untuk mengembangkan imajinasi dan intuisi.

Ia merasakan perbedaan tersebut ketika kembali melihat karya-karya yang dibuatnya pada masa lalu.

“Terkadang kalau melihat karya-karya sendiri di masa lalu, begitu imajinatif karena benar-benar berdasarkan bentuk dari intuisi sebagai seorang kreator atau seniman,” ungkapnya dalam refleksi tersebut.

Ketika Digitalisasi Berhadapan dengan Intuisi Seniman

Sri Wahyuni melihat perkembangan dunia digital membawa kemudahan luar biasa bagi seniman dalam memperoleh informasi dan referensi.

Namun, di sisi lain, derasnya informasi juga dapat menjadi tantangan tersendiri bagi kreativitas.

Menurutnya, terlalu mudahnya menemukan berbagai referensi melalui dunia digital berpotensi membuat kreator bergantung pada apa yang tersedia di layar.

Ia bahkan menyebut kondisi tersebut dapat menjadi semacam “ilusi kreator” yang berpotensi menumpulkan ketajaman insting dan intuisi ketika berkarya.

Bagi Sri Wahyuni, pengalaman langsung, proses pencarian dan keberanian menemukan bentuk melalui intuisi tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang seniman.

16 Tahun Meninggalkan Dunia Seni

Perjalanan Sri Wahyuni tidak selalu berjalan sesuai dengan cita-cita ketika pertama kali memasuki ISI Yogyakarta.

Selama kurang lebih 16 tahun, ia memilih vakum dari dunia seni rupa.

Masa tersebut membuat banyak jejak perjalanan berkesenian yang pernah dibangunnya ikut hilang. Sejumlah karya, katalog pameran dan kliping yang menjadi dokumentasi perjalanan seninya tidak lagi tersimpan.

Bagi seorang seniman, kehilangan dokumentasi bukan sekadar kehilangan benda. Di dalamnya terdapat rekaman perjalanan, proses dan sejarah yang pernah dilalui.

Meski demikian, Sri Wahyuni mengatakan bahwa kenangan tersebut tetap tersimpan dalam memorinya.

Ia percaya orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan keseniannya, termasuk kawan-kawan yang mengikuti pamerannya dan sesama seniman yang pernah berinteraksi dengannya, masih mengingat perjalanan tersebut.

“Sejarah dan kenangannya selalu ada dalam memory saya,” tulisnya.

Ia mengenang bahwa dirinya pernah menjalani dunia seni rupa sejak 1999 hingga sekitar 2010.

Bangkit Kembali dari Dukungan Kawan

Meski mengakui perjalanan hidup yang dihadapinya tidak selalu mudah, Sri Wahyuni memilih tidak menyesali seluruh masa yang telah berlalu.

Ia justru bersyukur masih memiliki teman-teman yang memberikan dukungan sehingga dirinya berani kembali tampil di dunia seni.

Dukungan tersebut menjadi salah satu energi untuk mulai menciptakan karya-karya baru.

Kini ia mulai kembali berkarya secara perlahan.

Sedikit demi sedikit, karya baru mulai dibuat dengan keyakinan bahwa proses tersebut suatu saat akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

“Meski keadaan dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Namun sebagai manusia yang hidup, harus mampu bangkit dalam keadaan apa pun,” tulisnya.

Menurutnya, menjadi seniman membutuhkan ketangguhan. Proses berkesenian bukan hanya persoalan kemampuan teknis, tetapi juga membutuhkan ketahanan mental yang kuat.

Tidak Menjadi Seniman Demi Pasar

Salah satu bagian penting dari refleksi Sri Wahyuni adalah pandangannya terhadap hubungan antara seni dan pasar.

Ia mengaku pernah berada dalam masa vakum ketika pasar seni sedang mengalami perkembangan pesat. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyesal.

Baginya, seorang seniman tidak semestinya mengukur keberlangsungan dirinya hanya dari kondisi pasar.

“Seorang seniman dengan karyanya yang kuat tidak akan mati hanya karena matinya pasar,” tegasnya.

Sri Wahyuni memandang seni sebagai bagian dari kehidupan manusia secara utuh.

Seni, menurutnya, dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk tetap hidup secara batiniah, menjadi penyembuh bagi jiwa yang terluka sekaligus menjadi kekuatan ketika manusia berada dalam kondisi rapuh.

Karena itu, ia tidak menempatkan tujuan menjadi seniman semata-mata untuk memperoleh kekayaan finansial.

“Menjadi seniman bukan untuk menjadi kaya secara finansial, seni membuat seseorang menjadi seniman,” tulisnya.

Karya Seni Lahir dari Jiwa

Bagi Sri Wahyuni, karya seni tidak semestinya hanya dipandang sebagai produk yang harus laku di pasar.

Karya seni, menurutnya, lahir dari jiwa, pengalaman dan proses kreatif seorang seniman.

Ia membedakan antara karya yang lahir dari dorongan kreatif seorang seniman dengan karya yang sejak awal dibuat sebagai produk untuk memenuhi permintaan pasar.

Dalam pandangannya, karya seni yang lahir secara murni dari proses kreatif tetap memiliki nilai meskipun tidak selalu langsung mendapatkan tempat di pasar.

Jika kemudian karya tersebut mendapat apresiasi dan dihargai oleh pasar, Sri Wahyuni menganggapnya sebagai bonus dari proses panjang yang telah dijalani.

“Patut dicatat, bila karya seniman murni itu dihargai oleh pasar, itu adalah bonus dari alam semesta atas ketangguhan mental dan kerja kerasnya sebagai seniman,” tulisnya.

Kini, setelah melewati perjalanan panjang dan masa vakum selama sekitar 16 tahun, Sri Wahyuni kembali membuat karya.

Kembalinya ia ke dunia seni rupa bukan semata-mata untuk mengejar pasar, popularitas atau keuntungan ekonomi.

Lebih dari itu, ia sedang berusaha menghidupkan kembali bagian dari dirinya yang pernah tumbuh melalui seni.

Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa dalam dunia seni, waktu dapat membuat seseorang berhenti berkarya, tetapi tidak selalu mampu mematikan dorongan untuk kembali mencipta.

Seni, bagi Sri Wahyuni, bukan hanya tentang karya yang terlihat, tetapi tentang bagaimana seorang manusia tetap menemukan dirinya melalui proses berkarya.***

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • 16 Tahun Vakum, Sri Wahyuni Kembali Menyapa Dunia Seni: Karya Lahir dari Jiwa, Bukan Sekadar Pasar
  • 16 Tahun Vakum, Sri Wahyuni Kembali Menyapa Dunia Seni: Karya Lahir dari Jiwa, Bukan Sekadar Pasar
  • 16 Tahun Vakum, Sri Wahyuni Kembali Menyapa Dunia Seni: Karya Lahir dari Jiwa, Bukan Sekadar Pasar
  • 16 Tahun Vakum, Sri Wahyuni Kembali Menyapa Dunia Seni: Karya Lahir dari Jiwa, Bukan Sekadar Pasar
  • 16 Tahun Vakum, Sri Wahyuni Kembali Menyapa Dunia Seni: Karya Lahir dari Jiwa, Bukan Sekadar Pasar
  • 16 Tahun Vakum, Sri Wahyuni Kembali Menyapa Dunia Seni: Karya Lahir dari Jiwa, Bukan Sekadar Pasar

Posting Komentar