Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dunia Kreatif Anak: Ketika Kepolosan Mulai Menjadi Komoditas

Ilustrasi (IA)

NEWSPORTAL.id
– Dunia kreatif anak semestinya menjadi ruang bebas untuk bermain, bereksplorasi dan menemukan imajinasi. Namun, ketika karya anak mulai dibebani target prestasi, perlombaan, sertifikat, publikasi hingga kepentingan promosi, muncul pertanyaan: masihkah karya tersebut sepenuhnya menjadi milik anak?

Pertanyaan itu menjadi kegelisahan yang disampaikan Edo Pop, seorang pelukis, dalam refleksinya mengenai perkembangan dunia kreatif anak.

Edo mengisahkan pengalamannya ketika anaknya masih kecil. Saat itu, sang anak kerap menggambar menggunakan pensil di atas kertas dengan caranya sendiri. Garis-garis yang dibuat belum tentu membentuk objek yang mudah dikenali, bahkan terkadang terlihat tidak beraturan.

Sebagai seorang pelukis, Edo sebenarnya memiliki pengetahuan untuk mengajarkan perspektif, proporsi, komposisi, warna hingga teknik menggambar. Namun, ia memilih menahan diri.

Menurutnya, terlalu cepat memasukkan ukuran dan teknik orang dewasa justru berpotensi membatasi cara anak melihat dunia.

“Sebelum seseorang menguasai teknik, ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu dijaga, yaitu kebebasan untuk melihat dan membayangkan,” demikian gagasan yang disampaikan Edo dalam tulisannya.

Belasan tahun kemudian, anak tersebut justru memilih kuliah di bidang seni rupa. Bagi Edo, keputusan itu menjadi bukti bahwa pilihan terhadap seni seharusnya tumbuh dari perjalanan dan kesadaran anak sendiri, bukan karena status sebagai anak seorang pelukis.

Dari pengalaman tersebut, Edo menyimpulkan bahwa anak bukan pewaris profesi orang tuanya, melainkan pewaris kemungkinan.

Ketika gambar anak mulai diukur dengan standar orang dewasa

Edo melihat menggambar sebagai salah satu bahasa awal anak dalam mengekspresikan pengalaman. Anak tidak selalu mampu menjelaskan pikirannya melalui kata-kata, tetapi dapat menyampaikannya melalui garis, bentuk, warna dan ruang.

Karena itu, karya anak tidak selalu tepat dinilai menggunakan ukuran visual orang dewasa.

Rumah bisa lebih besar daripada manusia, matahari memenuhi sebagian bidang kertas, atau pohon berwarna merah. Sesuatu yang dianggap “salah” oleh orang dewasa belum tentu merupakan kesalahan bagi anak.

Persoalan muncul ketika orang dewasa mulai terus-menerus menentukan bagaimana anak seharusnya menggambar.

Kalimat seperti “buat lebih rapi”, “pohon harus warna hijau”, “ikuti contoh” atau “bentuknya harus benar”, menurut Edo, memang dapat dimaksudkan sebagai proses pendidikan. Namun jika dilakukan secara berlebihan, hal itu berpotensi mempersempit ruang eksplorasi anak.

Anak akhirnya belajar bahwa ada bentuk yang dianggap benar, warna yang dianggap sesuai, dan gambar yang dianggap bagus.

Pada titik itu, imajinasi anak berisiko mengalami apa yang disebut Edo sebagai “penjinakan imajinasi”.

Anak tidak lagi sepenuhnya bertanya, “Apa yang ingin saya gambar?”, tetapi mulai berpikir, “Gambar seperti apa yang akan disukai orang lain?”

Dari ruang bermain menjadi ruang prestasi

Persoalan tersebut semakin kompleks ketika aktivitas menggambar masuk ke dalam sistem pendidikan, sanggar, perlombaan, pameran hingga media sosial.

Edo tidak menolak keberadaan ruang-ruang tersebut. Menurutnya, sekolah, sanggar, kompetisi dan pameran dapat memberikan pengalaman, pengetahuan serta keberanian kepada anak untuk berkembang.

Namun, orientasi yang terlalu kuat terhadap hasil dinilai dapat menggeser tujuan awal kegiatan kreatif.

Dalam perlombaan, misalnya, anak dapat mulai memahami bahwa gambar yang baik adalah gambar yang memenangkan penghargaan. Mereka kemudian belajar membaca selera juri dan menyesuaikan karya dengan standar yang dianggap berpeluang menang.

Hal serupa dapat terjadi di sanggar maupun sekolah apabila keberhasilan terlalu banyak diukur berdasarkan jumlah kejuaraan, sertifikat, pameran atau prestasi peserta didik.

Anak pun berpotensi diposisikan bukan lagi sebagai individu yang sedang bereksplorasi, tetapi sebagai representasi keberhasilan lembaga.

Label “pelukis cilik” dan persoalan citra anak

Media sosial kemudian membuat persoalan tersebut semakin luas.

Karya anak dapat dengan mudah dipublikasikan dan menjadi bagian dari citra orang tua, sekolah maupun sanggar. Anak yang berprestasi kemudian diperkenalkan sebagai anak berbakat, anak kreatif atau bahkan “pelukis cilik”.

Menurut Edo, istilah tersebut memang dapat menjadi bentuk apresiasi. Namun, identitas yang terus-menerus dilekatkan kepada anak juga dapat berubah menjadi ekspektasi.

Anak tidak hanya dituntut untuk terus menggambar, tetapi juga mempertahankan citra sebagai anak yang memiliki bakat menggambar.

Padahal, anak yang mampu menggambar dengan baik belum tentu ingin menjadi pelukis. Anak yang memenangkan perlombaan belum tentu ingin menjadikan seni sebagai profesi.

Begitu pula anak yang tumbuh di lingkungan seni tidak otomatis harus meneruskan profesi orang tuanya.

Ketika kepolosan memiliki nilai jual

Di sinilah Edo melihat munculnya persoalan instrumentalisasi dan komodifikasi anak.

Karya anak dapat digunakan untuk menunjukkan keberhasilan pendidikan, membangun reputasi, memperkuat citra lembaga hingga menjadi bagian dari kegiatan promosi.

Bahkan bukan hanya karya yang memiliki nilai, tetapi citra mengenai kepolosan, bakat dan usia anak juga dapat memiliki daya tarik tersendiri.

Label “anak berbakat” atau “pelukis cilik” dapat menarik perhatian publik dan memberikan nilai tambahan terhadap karya yang dihasilkan.

Namun, Edo menegaskan bahwa persoalannya bukan pada boleh atau tidaknya karya anak dijual, dipamerkan, dipublikasikan maupun mendapatkan penghargaan.

Yang perlu dipertanyakan adalah ketika nilai seorang anak mulai ditentukan oleh nilai karya yang dihasilkannya.

Ketika setiap gambar harus menghasilkan penghargaan, sertifikat, portofolio, pengikut di media sosial atau nilai ekonomi, aktivitas menggambar berpotensi kehilangan sebagian dari kebebasan awalnya.

Tidak semua gambar harus dipamerkan

Edo menilai pendidikan seni anak tetap penting. Teknik, perspektif, proporsi, warna dan komposisi dapat diajarkan.

Namun, pendidikan tersebut harus berjalan beriringan dengan kebebasan anak untuk bereksplorasi.

Tidak setiap gambar harus menjadi karya pameran.

Tidak setiap gambar harus memenangkan perlombaan.

Tidak setiap gambar harus dipublikasikan.

Dan tidak setiap gambar harus memiliki nilai ekonomi.

“Sebagian gambar mungkin cukup menjadi milik anak itu sendiri,” menjadi salah satu gagasan penting dalam refleksi Edo.

Menurutnya, justru di ruang yang tidak ditonton, tidak dinilai dan tidak dipamerkan itulah kebebasan kreatif anak mungkin masih terjaga.

Pada akhirnya, persoalan dunia kreatif anak bukan hanya tentang bagaimana membuat anak semakin terampil menggambar. Persoalan yang lebih mendasar adalah siapa yang memiliki kendali terhadap imajinasi anak.

Jika terlalu banyak ukuran orang dewasa masuk ke dalam proses kreatif, dunia pendidikan justru berisiko menghasilkan anak yang mampu menggambar sesuai standar, tetapi kehilangan keberanian untuk menggambar sesuatu yang berbeda.

Anak bukan proyek orang dewasa

Edo mengingatkan bahwa anak bukanlah kanvas kosong yang menunggu untuk diisi orang dewasa.

Anak bukan proyek yang harus diselesaikan, bukan portofolio prestasi, bukan simbol keberhasilan orang tua dan bukan pula perpanjangan dari cita-cita orang dewasa.

Anak adalah manusia yang sedang tumbuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang belum sepenuhnya diketahui.

Karena itu, tugas orang tua, guru, sekolah, sanggar dan lingkungan bukan menggambar masa depan anak, melainkan menyediakan ruang agar anak dapat menemukan dan menggambar masa depannya sendiri.

Jika kelak anak memilih menjadi pelukis, biarlah keputusan itu lahir dari kesadaran dan keinginannya sendiri.

Dan jika akhirnya memilih jalan yang sama sekali berbeda, keputusan tersebut juga harus dihormati sebagai bagian dari kebebasannya.

Sebab yang paling penting bukan apakah seorang anak kelak menjadi pelukis atau bukan.

Yang lebih penting adalah apakah selama masa kanak-kanaknya ia pernah memiliki kesempatan untuk menggambar tanpa merasa harus memenuhi keinginan orang lain.***

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Dunia Kreatif Anak: Ketika Kepolosan Mulai Menjadi Komoditas
  • Dunia Kreatif Anak: Ketika Kepolosan Mulai Menjadi Komoditas
  • Dunia Kreatif Anak: Ketika Kepolosan Mulai Menjadi Komoditas
  • Dunia Kreatif Anak: Ketika Kepolosan Mulai Menjadi Komoditas
  • Dunia Kreatif Anak: Ketika Kepolosan Mulai Menjadi Komoditas
  • Dunia Kreatif Anak: Ketika Kepolosan Mulai Menjadi Komoditas

Posting Komentar