Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Performance Merah Putih dan Kritik Kemunafikan dalam Aksi Estetik 2 di Bandung

Performance Merah Putih. (Foto: Facebook Prasasti SituSeni Literatif)

BANDUNG, NEWSPORTAL.ID
– Kritik terhadap kondisi sosial dan kehidupan kebangsaan disampaikan para seniman Bandung melalui berbagai karya dan performance art dalam Aksi Estetik #2 yang digelar di Kebun Seni Kreativitas Budaya, Jalan Tamansari Nomor 69, Bandung, Minggu (13/9/2026).

Kegiatan yang digagas Aliansi Bandung Ngagoak bersama sejumlah seniman dan masyarakat Bandung tersebut berlangsung sejak sekitar pukul 14.30 WIB hingga menjelang magrib.

Salah satu performance yang menarik perhatian menampilkan sosok perempuan bersimpuh mengenakan mukena putih, namun tidak sedang melaksanakan salat.

Dalam performance tersebut, sang performer menuangkan cairan merah ke dalam gelas bening, meminumnya, kemudian menumpahkannya kembali dan mengguyurkannya ke kepala hingga cairan merah mengalir membasahi wajah serta mukena putih yang dikenakannya.

Performance tersebut dipandang sebagai simbol pertemuan warna merah dan putih yang mengingatkan pada bendera Merah Putih.

Dalam tulisan reflektifnya, Doddi Ahmad Fauji menyebut performance karya Komet Radenroro, alumni Seni Rupa UPI angkatan 1983, sebagai salah satu karya yang artikulatif sekaligus simbolik dalam menyampaikan keresahan sosial.

Menurut tafsir Doddi, warna putih pada mukena dan merah yang mengalir di atasnya menjadi metafora mengenai kondisi kehidupan kebangsaan. Putih yang semestinya melambangkan kesucian dan merah yang merepresentasikan keberanian dipertemukan dalam sebuah adegan yang sarat simbol.

Namun, makna performance tersebut tidak tunggal.

Komet Radenroro sendiri mengatakan bahwa performance art bersifat multitafsir. Ia menyebut tafsir yang disampaikan Doddi merupakan salah satu kemungkinan pembacaan terhadap karya tersebut.

Darah, Memori dan Pengalaman Personal

Di balik performance tersebut terdapat pengalaman personal Komet yang turut memengaruhi proses kreatifnya.

Ia mengungkapkan bahwa warna merah dan simbol darah kerap muncul dalam sejumlah performance yang dibuatnya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman selama sekitar 12 tahun merawat suaminya yang menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan hingga akhirnya meninggal dunia.

“Kalu nanti Akang amati saya sering membawa simbol darah atau warna merah, karena saya ngurus almarhum suami 12 tahun cuci darah, tiap 2x seminggu selalu melihat darah. Akhirnya ke-save kuat dalam ruang memori saya,” kata Komet sebagaimana dikutip Doddi dalam tulisannya.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari ingatan personal yang dibawa ke dalam proses penciptaan karya.

Bagi Komet, pengalaman hidup, kehilangan dan suasana berkabung dapat bertemu dengan berbagai persoalan sosial yang dirasakan masyarakat.

Seni sebagai Ruang Kritik Sosial

Aksi Estetik #2 tidak hanya menghadirkan satu performance.

Kegiatan tersebut juga diisi orasi mengenai persoalan ketimpangan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disampaikan Guru Rahmat Suprihat dan Panembahan Herry Dim.

Selain itu, sejumlah penyair tampil membacakan puisi, di antaranya Rinrin Candraresmi, Dini Destari, Untung Wardojo dan Abah Yusef Muldiyana.

Panggung seni juga diramaikan Musik Akustik Kampungan, Manjing Manjang dan Komunitas Penyanyi Jalanan Bandung (KPJ), termasuk penampilan tari dari anak-anak KPJ.

Sejumlah performance turut ditampilkan oleh Lab Tubuh BuahBatu 212 dan Tonny Broer, Maximus Pristonius bersama geng Kuma Aing Anying, serta tiga ibu, yakni Elly Dzarah, Rinrin Candraresmi dan Desti Apa Ini.

Rangkaian pertunjukan tersebut menjadi ruang bagi para seniman untuk menyampaikan respons terhadap berbagai persoalan sosial dan kebudayaan yang mereka rasakan.

Dalam refleksinya, Doddi menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk penyampaian aspirasi publik melalui pendekatan kritis, logis, etis dan estetis.

Kritik terhadap Kondisi Sosial-Ekonomi

Doddi juga mengaitkan ekspresi kesenian dalam Aksi Estetik #2 dengan berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat, mulai dari politik, penegakan hukum hingga kondisi ekonomi.

Ia menilai kritik para seniman tidak hanya diarahkan kepada persoalan di tingkat elite, tetapi juga menjadi refleksi terhadap masyarakat secara luas.

Namun, dalam tulisannya, Doddi membedakan dampak kemunafikan individual masyarakat dengan tindakan para elite yang menurutnya memiliki konsekuensi lebih luas terhadap tata kelola negara.

Ia menyoroti persoalan pajak, harga barang dan kondisi pendapatan masyarakat sebagai bagian dari keresahan yang ingin disuarakan melalui kegiatan tersebut.

Pandangan tersebut merupakan refleksi dan kritik yang disampaikan penulis terhadap situasi sosial-politik dan ekonomi, bukan kesimpulan faktual mengenai pihak tertentu.

Dari ISBI hingga Jepang

Komet Radenroro juga menceritakan perjalanan dirinya memasuki dunia performance art.

Ia mengatakan keterlibatannya dalam performance art tidak terlepas dari peran Willem Chrisriawan, dosen ISBI yang kini telah pensiun.

Menurut Komet, dirinya pernah mendapat kesempatan dikirim ke Jepang untuk mengikuti kegiatan performance art. Ia menyebut agenda NIPAF Jepang, yang disebutnya sebagai salah satu event performance art tingkat Asia, kemudian berhenti beroperasi setelah pandemi COVID-19.

Pengalaman tersebut turut memperkuat ketertarikannya terhadap performance art sebagai medium ekspresi.

Bagi Komet, performance art memberikan ruang bagi seniman untuk menyampaikan gagasan melalui tubuh, simbol, benda, ruang dan pengalaman personal.

Maknanya tidak harus tunggal karena penonton memiliki kebebasan untuk membangun tafsir berdasarkan pengalaman dan cara pandangnya masing-masing.

Aksi Estetik #3 Dijadwalkan Oktober

Setelah Aksi Estetik #2, Aliansi Bandung Ngagoak berencana melanjutkan kegiatan tersebut melalui Aksi Estetik #3.

Kegiatan berikutnya direncanakan berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 14.30 WIB, dan masih bertempat di Kebun Seni Kreativitas Budaya, Bandung.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, para seniman dan masyarakat yang terlibat ingin menjadikan ruang seni bukan hanya sebagai tempat menikmati karya, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan, refleksi dan penyampaian kegelisahan terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Dalam konteks performance Komet Radenroro, merah dan putih tidak sekadar hadir sebagai warna.

Keduanya menjadi simbol yang membuka ruang tafsir tentang agama, pengalaman personal, kehilangan, identitas kebangsaan hingga kegelisahan sosial.

Dan seperti karakter performance art itu sendiri, maknanya akhirnya kembali kepada penonton: apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dan apa yang kemudian direnungkan.***

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Performance Merah Putih dan Kritik Kemunafikan dalam Aksi Estetik 2 di Bandung
  • Performance Merah Putih dan Kritik Kemunafikan dalam Aksi Estetik 2 di Bandung
  • Performance Merah Putih dan Kritik Kemunafikan dalam Aksi Estetik 2 di Bandung
  • Performance Merah Putih dan Kritik Kemunafikan dalam Aksi Estetik 2 di Bandung
  • Performance Merah Putih dan Kritik Kemunafikan dalam Aksi Estetik 2 di Bandung
  • Performance Merah Putih dan Kritik Kemunafikan dalam Aksi Estetik 2 di Bandung

Posting Komentar