Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dari Tebo, Semangat Menghidupkan Kembali Tsamaratul Insan, Organisasi Ulama Bersejarah Jambi


NEWSPORTAL.ID
– Sejarah tidak selalu tinggal dalam buku-buku tua. Terkadang, ia menunggu untuk dihidupkan kembali melalui pertemuan, percakapan, dan tekad orang-orang yang tidak ingin warisan leluhurnya hilang ditelan zaman.

Rabu, 28 Oktober 2026, Pondok Pesantren Azizy di Kabupaten Tebo, Jambi, menjadi tempat berkumpulnya para ulama, pimpinan pondok pesantren, dan tokoh masyarakat. 

Mereka datang bukan semata-mata untuk menghadiri sebuah pertemuan, melainkan membawa harapan agar salah satu warisan besar ulama Jambi kembali menemukan tempatnya dalam kehidupan masyarakat.

Nama itu adalah Tsamaratul Insan.

Organisasi yang disebut berdiri sejak 1915 tersebut menyimpan jejak panjang perjalanan ulama Jambi. Namun, waktu dan kevakuman membuat namanya tidak lagi seakrab dahulu di telinga sebagian masyarakat. Kini, melalui Silaturahmi Perukunan Ulama Jambi, semangat untuk membangkitkannya kembali mulai disuarakan.

Pertemuan di Pondok Pesantren Azizy ini menjadi yang pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Tebo. Sebuah langkah yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki makna penting bagi mereka yang meyakini bahwa sejarah tidak boleh berhenti sebagai kenangan.

Di tengah perubahan zaman, ketika generasi muda semakin jauh dari cerita perjuangan para pendahulunya, menghidupkan kembali Tsamaratul Insan menjadi upaya merawat ingatan kolektif masyarakat Jambi.

Ketika Sejarah Memanggil Generasi Penerus

Tuan Guru Ravicky, pimpinan Pondok Pesantren Mumtazah Cendikia, memandang kebangkitan Tsamaratul Insan sebagai pekerjaan yang tidak bisa terus ditunda.

Baginya, organisasi tersebut bukan sekadar perkumpulan ulama. Tsamaratul Insan merupakan bagian dari identitas sejarah Jambi, sekaligus bukti bahwa daerah ini memiliki tradisi keulamaan dan perjuangan organisasi yang telah tumbuh sejak lebih dari satu abad silam.

"Saatnya kita bangkit. Tsamaratul Insan merupakan perukunan dan organisasi yang wajib kita hidupkan kembali," ujarnya dalam pertemuan tersebut.

Ada kegelisahan sekaligus harapan dalam pesan itu. Kegelisahan karena warisan besar para ulama berisiko semakin dilupakan apabila tidak ada generasi yang bersedia merawatnya. Harapan karena sejarah yang sama masih dapat menjadi sumber kekuatan untuk membangun masa depan.

Ravicky mengajak masyarakat melihat kembali betapa besar pengaruh ulama terdahulu dalam membangun kehidupan keagamaan dan sosial di Jambi.

Menurutnya, Tsamaratul Insan memiliki akar sejarah yang kuat. Karena itu, organisasi tersebut layak menjadi wadah bagi generasi penerus untuk berkontribusi dalam memperjuangkan kepentingan agama, bangsa, dan negara.

Ia kemudian mengingatkan bahwa Jambi bukan daerah yang tidak memiliki warisan organisasi keulamaan.

Di Jawa, masyarakat mengenal Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Di Lombok terdapat Nahdlatul Wathan, di Sumatera Barat ada Sumatra Thawalib, sementara Al-Irsyad dikenal di Jakarta dan Al-Washliyah di Medan.

Jambi, kata Ravicky, juga memiliki Tsamaratul Insan.

"Pada tahun yang sama, Jambi juga memiliki Tsamaratul Insan," tuturnya.

Pernyataan itu seolah menjadi ajakan untuk menengok kembali halaman sejarah yang mungkin lama tidak dibuka. 

Sebab, mengenal organisasi keulamaan dari daerah sendiri bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga tentang memahami bagaimana para pendahulu membangun fondasi kehidupan masyarakat.

Enam Ulama dan Jejak Perjuangan Sejak 1915

Di balik nama Tsamaratul Insan, terdapat enam tokoh yang disebut sebagai pendirinya. Mereka adalah ulama yang hidup dalam lingkungan masyarakat Jambi pada masa ketika hubungan keilmuan dengan pusat-pusat pembelajaran Islam menjadi bagian penting dalam perkembangan tradisi keagamaan.

Keenam tokoh tersebut ialah Haji Abdus Shamad bin H. Ibrahim, yang dikenal sebagai Hoofd Penghulu Jambi atau Penghulu Kota; Haji Ibrahim bin H. Abdul Majid dari Kampung Tengah; Haji Ahmad bin Abdus Syakur dari Tahtul Yaman; Haji Usman bin Haji Ali dari Tanjung Johor; Kemas Haji Muhammad Saleh bin Kemas H. Muhammad Yasin dari Tanjung Pasir; serta Sayyid Alwi bin Muhammad bin Syihab.

Mereka disebut memiliki hubungan keilmuan dengan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar asal Minangkabau yang mengajar di Makkah dan dikenal luas dalam perkembangan pemikiran Islam di Nusantara.

Nama-nama tersebut bukan sekadar daftar tokoh masa lampau. Mereka menjadi pintu untuk menelusuri bagaimana tradisi keilmuan, hubungan ant ulama, dan kebutuhan masyarakat melahirkan organisasi yang kemudian menjadi bagian dari sejarah Jambi.

Namun, sejarah tidak cukup hanya disebutkan. Ia perlu ditelusuri, didokumentasikan, dan diperkenalkan kembali dengan dukungan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah kebangkitan Tsamaratul Insan menemukan makna yang lebih luas. Menghidupkan organisasi tidak hanya berarti membangun kepengurusan atau mengadakan pertemuan, tetapi juga mengembalikan pengetahuan masyarakat tentang siapa para pendirinya, apa yang mereka perjuangkan, dan bagaimana nilai-nilai perjuangan itu dapat diteruskan.

Jika generasi muda tidak lagi mengenal sejarah organisasinya sendiri, warisan itu perlahan-lahan dapat kehilangan tempat dalam ingatan masyarakat.

Sebaliknya, ketika sejarah diperkenalkan dengan baik, ia dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan tanpa tercerabut dari akar budaya dan keagamaan.

Ponpes Azizy, Tempat Bertemunya Gagasan dan Harapan

Pertemuan di Kabupaten Tebo juga memiliki cerita tersendiri.

Ustaz Abdul Aziz Alhafizd, selaku tuan rumah, menyampaikan terima kasih kepada para ulama, pimpinan pondok pesantren, dan tokoh masyarakat yang telah meluangkan waktu untuk hadir.

Kegiatan tersebut turut dirangkai dengan pembacaan doa selamat di Taman Alhambra Gardens, kawasan Pondok Pesantren Azizy.

Bagi Abdul Aziz, pertemuan itu diharapkan membawa keberkahan, baik bagi usaha yang dijalankan maupun bagi ikhtiar mempererat hubungan ant ulama.

Ia berharap kawasan tersebut dapat menjadi tempat berkumpul yang nyaman, aman, dan alami. Sebuah ruang bagi para ulama untuk berbincang, bertukar pikiran, membangun kesepahaman, serta mendiskusikan persoalan umat dalam suasana yang lebih santai.

Harapan itu menjadi penting karena kebersamaan tidak selalu lahir dari forum resmi. Terkadang, hubungan yang kuat justru tumbuh dari percakapan sederhana, ketika setiap orang memiliki kesempatan untuk mendengarkan dan memahami satu sama lain.

Dalam konteks kebangkitan Tsamaratul Insan, silaturahmi menjadi fondasi awal. Sebelum sebuah organisasi dapat bergerak jauh, diperlukan kesediaan untuk duduk bersama, menyatukan pandangan, dan merumuskan tujuan yang dapat diperjuangkan secara kolektif.

Abdul Aziz berharap pertemuan tersebut menjadi salah satu langkah untuk menghidupkan kembali organisasi ulama Jambi yang telah lama mengalami kevakuman.

Ia juga ingin agar generasi muda dan masyarakat luas mengetahui bahwa Jambi memiliki sejarah organisasi keulamaan yang panjang.

Dengan mengenal sejarah itu, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengambil bagian dalam menjaga dan meneruskan warisan para pendahulu.

Menghidupkan Nama, Meneruskan Perjuangan

Membangkitkan kembali sebuah organisasi bersejarah tentu bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kali pertemuan.

Semangat yang tumbuh perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata. Sejarah perlu dihimpun, dokumen perlu ditelusuri, generasi muda perlu dilibatkan, dan program kerja perlu dirancang agar keberadaan organisasi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Tsamaratul Insan memiliki kesempatan untuk kembali diperkenalkan sebagai bagian dari identitas keulamaan Jambi. Namun, keberlanjutannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan para penggerak untuk menjaga kebersamaan dan menjadikan organisasi tersebut relevan dengan kebutuhan zaman.

Warisan para ulama terdahulu tidak cukup dibanggakan karena usianya yang panjang. Warisan itu juga harus dipahami nilai-nilainya, kemudian diwujudkan melalui pengabdian yang nyata.

Di tengah berbagai perubahan sosial, peran ulama tetap penting dalam membangun kehidupan keagamaan, memperkuat persaudaraan, menumbuhkan kepedulian sosial, serta membimbing masyarakat menghadapi persoalan zaman.

Tsamaratul Insan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan potensi tersebut apabila kebangkitan yang digaungkan di Tebo benar-benar dilanjutkan dengan kerja bersama.

Rabu itu, Pondok Pesantren Azizy menjadi tempat bertemunya para ulama dan tokoh masyarakat yang membawa satu harapan: agar sejarah besar tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Dari Tebo, sebuah pesan kembali disuarakan. Jambi memiliki warisan perjuangan ulama yang patut dikenali dan dirawat. Generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk memastikan warisan itu tidak hilang hanya karena waktu terus berjalan.

Sebab, sejarah bukan semata-mata tentang siapa yang pernah mendirikan sebuah organisasi. Sejarah juga berbicara tentang siapa yang bersedia melanjutkan perjuangannya.

Tsamaratul Insan kini berada di persimpangan antara kenangan dan kebangkitan. Apakah ia akan kembali menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jambi, atau hanya tinggal nama dalam catatan sejarah, akan ditentukan oleh kesungguhan generasi yang hari ini menyerukan kebangkitannya.***

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Dari Tebo, Semangat Menghidupkan Kembali Tsamaratul Insan, Organisasi Ulama Bersejarah Jambi
  • Dari Tebo, Semangat Menghidupkan Kembali Tsamaratul Insan, Organisasi Ulama Bersejarah Jambi
  • Dari Tebo, Semangat Menghidupkan Kembali Tsamaratul Insan, Organisasi Ulama Bersejarah Jambi
  • Dari Tebo, Semangat Menghidupkan Kembali Tsamaratul Insan, Organisasi Ulama Bersejarah Jambi
  • Dari Tebo, Semangat Menghidupkan Kembali Tsamaratul Insan, Organisasi Ulama Bersejarah Jambi
  • Dari Tebo, Semangat Menghidupkan Kembali Tsamaratul Insan, Organisasi Ulama Bersejarah Jambi

Posting Komentar