Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

“Tempat Pulang”, Karya EdoPop tentang Tubuh, Rumah, Ingatan, dan Negeri

Lukisan "Tempat Pulang " karya Edo Pop. 

NEWSPORTAL.ID
– Setelah cukup lama beristirahat dari aktivitas melukis, perupa EdoPop kembali membuka ruang kerjanya. Dari rutinitas sederhana menikmati kopi sambil memandangi karya-karya yang dibuat selama setahun terakhir, muncul sebuah perenungan tentang perjalanan hidup dan proses berkesenian.

Perenungan itu kemudian menemukan salah satu bentuknya melalui karya berjudul “Tempat Pulang”, berukuran 60 × 80 sentimeter, dengan medium AOC, yang dikerjakan pada 2026.

Bagi EdoPop, “Tempat Pulang” bukan sekadar gambaran tentang rumah secara fisik. Karya tersebut menjadi ruang untuk membicarakan tubuh, keluarga, lingkungan, ingatan, perjalanan, keterasingan, hingga kebutuhan manusia untuk memiliki tempat dan merasa menjadi bagian dari kehidupan.

Ia menemukan benang merah dari berbagai karya yang dibuatnya selama setahun terakhir. Meski memiliki bentuk dan cerita berbeda, sejumlah persoalan terus muncul, seperti hubungan manusia dengan lingkungan, hewan dan tumbuhan, keluarga, ingatan serta perjalanan.


Dari sana, gagasan tentang rumah perlahan muncul kembali.

Menariknya, gagasan tersebut memiliki hubungan dengan perjalanan berkesenian EdoPop dua dekade sebelumnya. Pada 2005, ia pernah menggelar pameran tunggal bertajuk “Membuat Rumah Baru” di Emmitan Contemporary Art Gallery, Surabaya.

Dua puluh tahun kemudian, gagasan tentang rumah kembali hadir, tetapi dengan pemaknaan yang berbeda.

Jika “Membuat Rumah Baru” berbicara tentang kemungkinan membangun dan menemukan ruang baru, maka “Tempat Pulang” bergerak lebih jauh pada pertanyaan tentang apa yang sebenarnya membuat seseorang merasa pulang.

Rumah, dalam pemikiran EdoPop, tidak berhenti pada bangunan dengan pintu, jendela dan atap. Rumah dapat berupa tubuh, keluarga, orang yang dicintai, ingatan terhadap suatu tempat, maupun perasaan aman ketika berada bersama seseorang.

Dalam karya “Tempat Pulang”, tubuh menjadi salah satu pusat gagasan. Tubuh tersebut tidak sepenuhnya manusia dan tidak pula sepenuhnya hewan. Kepala menyerupai binatang, terdapat kaki dengan sepatu bot, ekor, tanduk, serta tumbuhan yang tumbuh dari bagian kepala.

Bagi EdoPop, percampuran bentuk tersebut bukan semata-mata untuk menciptakan figur yang ganjil. Ia melihat kehidupan memang terdiri dari berbagai hal yang saling melekat dan memengaruhi.

Manusia membawa keluarga, pekerjaan, ingatan, kebiasaan, kasih sayang, kecemasan, keinginan serta berbagai pengalaman yang akhirnya menjadi bagian dari dirinya.

Karena itu, tubuh dalam karya tersebut dibayangkan sebagai ruang yang membawa sebuah dunia.

Di atas punggung figur utama terdapat sosok kecil seperti sedang menungganginya. Sosok tersebut sengaja tidak diberi makna tunggal. Ia dapat dibaca sebagai anak, pasangan, seseorang yang sedang berjalan bersama, atau bahkan bagian lain dari tubuh itu sendiri.

Di dekat kaki figur terdapat rumah kecil. Rumah tersebut seolah ikut dibawa dalam perjalanan.

Rumah kecil itu kemudian berkembang menjadi simbol yang lebih luas. Ia bisa berarti seseorang yang dicintai, suara yang terasa akrab, tempat mencari ketenangan ketika lelah, atau ingatan tentang sebuah tempat yang pernah memberikan rasa aman.

Dari sana, EdoPop membayangkan tubuh perempuan sebagai “rumah yang berjalan”—tubuh yang membawa kehidupan, cerita, kelelahan, kecemasan sekaligus orang-orang yang dicintainya.

Namun, gagasan tentang rumah kemudian tidak berhenti pada keluarga.

EdoPop memperluasnya menjadi refleksi tentang masyarakat dan negeri sebagai rumah bersama. Menurutnya, manusia pertama kali mengenal dunia melalui rumah, keluarga, lingkungan, bahasa, kebiasaan, makanan hingga suara orang-orang di sekitarnya.

Pengalaman tersebut kemudian membentuk rasa memiliki terhadap tempat yang lebih luas.

Negeri, dalam pemaknaan tersebut, bukan hanya batas wilayah, peta, aturan atau simbol. Negeri dapat dipahami sebagai ruang kehidupan bersama, tempat manusia dengan berbagai latar belakang dan kepentingan memiliki kesempatan untuk hidup, tumbuh, merasa aman dan mempunyai ruang bagi dirinya.

Dari sinilah muncul pertanyaan yang cukup kuat dalam gagasan “Tempat Pulang”: jika perempuan sering menjadi tempat banyak orang pulang, siapa yang menjaga orang yang selalu menjaga?

Pertanyaan itu tidak diarahkan sebagai penolakan terhadap peran merawat. Sebaliknya, EdoPop melihat merawat sebagai bagian penting dari kehidupan. Namun, orang yang merawat juga memiliki tubuh, keinginan, kelelahan dan ruang pribadi yang perlu diperhatikan.

Persoalan tersebut kemudian ditarik kembali kepada konsep negeri sebagai rumah bersama.

Jika keluarga dibangun dengan saling menjaga, maka kehidupan bernegara pun semestinya menghadirkan ruang bagi manusia untuk hidup secara layak, merasa diakui dan tetap memiliki dirinya sendiri.

Secara visual, karya “Tempat Pulang” mempertemukan berbagai bentuk dan warna. Tubuh utama berwarna biru dengan sapuan warna yang saling berkelindan, sementara hijau, merah muda, merah, kuning dan putih hadir di sejumlah bagian.

Latar merah gelap menjadi ruang bagi tubuh dan objek-objek tersebut untuk bergerak.

Sejumlah bentuk menyerupai mainan, tumbuhan, mata dan benda-benda yang sulit diberi nama. Bagi EdoPop, objek-objek tersebut bekerja seperti serpihan ingatan.

Ia sengaja tidak memberikan satu jawaban terhadap seluruh simbol dalam karyanya. Justru, ruang interpretasi diberikan kepada orang yang melihatnya.

“Tempat Pulang” pada akhirnya berbicara tentang perjalanan manusia yang membawa banyak hal dalam tubuh dan kehidupannya.

Keluarga, pekerjaan, ingatan, tanggung jawab, kasih sayang, kehilangan dan berbagai pengalaman menjadi bagian dari perjalanan tersebut.


Pulang pun tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama.

Pulang dapat berarti menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang di dalam diri, menerima apa yang telah dibawa sepanjang perjalanan, atau menemukan sebuah ruang di mana seseorang dapat menjadi dirinya sendiri.

Melalui karya ini, EdoPop tidak menawarkan satu jawaban tentang makna rumah maupun pulang. Ia justru mengajak melihat kembali hubungan antara tubuh, rumah, keluarga, lingkungan, masyarakat dan negeri.

Sebab, sebagaimana gagasan yang dibangun dalam karya tersebut, manusia tidak hanya tinggal di dalam sebuah rumah atau negeri. Manusia juga membawa rumah dan tempat asalnya di dalam tubuh, ingatan dan kehidupan sehari-hari.***

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  •  “Tempat Pulang”, Karya EdoPop tentang Tubuh, Rumah, Ingatan, dan Negeri
  •  “Tempat Pulang”, Karya EdoPop tentang Tubuh, Rumah, Ingatan, dan Negeri
  •  “Tempat Pulang”, Karya EdoPop tentang Tubuh, Rumah, Ingatan, dan Negeri
  •  “Tempat Pulang”, Karya EdoPop tentang Tubuh, Rumah, Ingatan, dan Negeri
  •  “Tempat Pulang”, Karya EdoPop tentang Tubuh, Rumah, Ingatan, dan Negeri
  •  “Tempat Pulang”, Karya EdoPop tentang Tubuh, Rumah, Ingatan, dan Negeri

Posting Komentar