Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tubuh Ekologi, Ketika Edo Pop Membaca Relasi Manusia dan Alam Melalui Seni

Keterangan karya:

Judul: Tubuh Ekologi

Ukuran: 100 x 120 cm

Medium: AOC

Tahun: 2026

Seniman Edo Pop menghadirkan karya “Tubuh Ekologi”, berukuran 100 x 120 sentimeter, medium AOC, tahun 2026. Karya ini menjadi refleksi tentang hubungan manusia dengan alam, ingatan masa kecil, keluarga, agama, lokalitas, hingga pengalaman hidup yang kemudian diolah melalui praktik seni.

Bagi Edo Pop, manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Di sekitar manusia selalu terdapat kehidupan lain yang berbagi tanah, udara, air, pohon, cahaya dan ruang.

Gagasan itu tumbuh dari pengalaman sederhana di lingkungan rumah. Ketika musim kemarau datang dan sumber air mulai berkurang, ia biasa menaruh air dalam tempayan di halaman. Burung-burung datang untuk minum dan mandi. Katak, kadal, ular dan berbagai makhluk kecil lainnya terkadang turut memanfaatkannya.

Kebiasaan sederhana tersebut kemudian membentuk kesadaran bahwa rumah bukan sekadar ruang bagi manusia, melainkan ruang yang dihuni bersama berbagai bentuk kehidupan.

“Kesadaran ekologis bagi saya tidak lahir pertama-tama dari teori. Ia tumbuh dari cara melihat dan memperlakukan kehidupan sehari-hari,” demikian refleksi Edo Pop dalam gagasan yang melandasi karya tersebut.

Menurutnya, ketika manusia mengambil air, menggunakan tanah, menebang pohon, membuang sesuatu atau membiarkan sebuah ruang tetap hidup, selalu ada kehidupan lain yang ikut menerima dampaknya.

Ekologi dari Kebiasaan Masa Kecil

Kesadaran tersebut, kata Edo, telah tumbuh jauh sebelum ia mengenal istilah ekologi.

Sejak kecil, ibunya membiasakan membawa kantong plastik ketika bepergian agar sampah tidak dibuang sembarangan. Sampah juga tidak dibuang ke sungai.

Meski pada masa itu sebagian bungkus plastik yang terkumpul masih dibakar di belakang rumah, kebiasaan tersebut meninggalkan satu pemahaman penting bahwa sungai bukan tempat membuang sampah dan lingkungan bukan ruang yang dapat diperlakukan sesuka hati.

Selain lingkungan, pendidikan agama juga menjadi bagian dari pembentukan cara pandangnya.

Ayahnya merupakan tokoh agama yang dibesarkan dalam kehidupan pesantren. Mengaji, mendengarkan nasihat orang tua dan memahami batas antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pada saat yang sama, Edo mengenal lingkungan melalui pengalaman langsung. Sungai, lebak, pohon, burung, tanah dan perubahan musim menjadi bagian dari pengalaman masa kecilnya.

“Agama, alam, dan kehidupan sehari-hari tidak tumbuh sebagai sesuatu yang terpisah. Ketiganya perlahan membentuk cara saya melihat dunia,” ujarnya dalam refleksinya.

Belajar dari Larangan Memelihara Burung

Salah satu pengalaman masa kecil yang kemudian memiliki arti penting dalam perjalanan pemikirannya adalah larangan memelihara burung.

Sebagai anak kecil, ia sempat mempertanyakan larangan tersebut. Namun setelah melalui perjalanan hidup dan praktik artistik yang panjang, larangan sederhana itu justru dibaca sebagai pengetahuan tentang batas antara manusia dan kehidupan lain.

Mengapa sesuatu yang disukai harus dimiliki? Mengapa keindahan harus dikurung hanya karena manusia senang melihatnya?

Dari pengalaman tersebut, Edo memahami bahwa tidak semua yang disukai manusia harus menjadi miliknya. Tidak semua yang dapat diambil berarti pantas untuk diambil.

Pemahaman serupa ia temukan dari kebiasaan orang tuanya yang tidak sembarangan menebang pohon.

Bagi Edo, manusia memang dapat menggunakan apa yang tersedia di alam, tetapi penggunaan tidak otomatis berarti penguasaan.

Alam, Leluhur dan Identitas Lokal

Gagasan ekologis Edo juga berkelindan dengan cerita keluarga mengenai leluhur yang dipercaya sebagai salah satu pendiri kampung pada sekitar abad ke-16.

Cerita tersebut menghubungkan perjalanan leluhur dengan Demak, Cirebon, Banten hingga Palembang. Sebagian keturunannya kemudian menjadi pemimpin dan alim ulama.

Bagi Edo, cerita tersebut bukan hanya persoalan silsilah. Di dalamnya terdapat pengalaman tentang bagaimana manusia membaca tempat yang didatangi—sungai sebagai jalan, tanah sebagai tempat berpijak, hutan sebagai ruang yang harus dilewati, serta alam sebagai sesuatu yang tidak semata-mata harus ditaklukkan.

Cerita leluhur itu kemudian menjadi pintu untuk membaca kembali hubungan antara tempat, keluarga, agama, alam dan pembentukan dirinya.

Dalam perjalanan spiritualnya, Edo juga mengenal pemikiran Ibn ‘Arabi tentang alam sebagai tanda-tanda Tuhan. Alam bukan Tuhan, tetapi dapat menjadi tempat manusia membaca tanda-tanda kebesaran-Nya.

Dari perspektif tersebut, burung, pohon, air, tanah dan makhluk lainnya tidak lagi dipandang sekadar sebagai sesuatu yang berada di luar manusia, melainkan bagian dari hubungan kehidupan yang saling menghidupi.

Pengalaman Sumatra Selatan

Pengalaman masa kecil di Sumatra Selatan turut memperkuat kesadaran ekologis tersebut.

Sungai, perahu, lebak, sawah, kebun, hutan, rumah panggung, langgar dan ruang berkumpul menjadi bagian dari pengalaman awal Edo dalam memahami dunia.

Lingkungan, menurutnya, bukan hanya latar tempat manusia tinggal. Lingkungan ikut membentuk cara manusia berjalan, bekerja, berbicara, mengingat dan memahami kehidupan.

Perubahan lebak mengikuti musim, tanah yang basah lalu mengering, tumbuhan yang tumbuh dan mati, serta air yang datang dan surut menjadi pengalaman yang mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mengikuti kehendak manusia.

Ada keadaan yang harus dibaca, diikuti dan disesuaikan.

Kesadaran tersebut bahkan memengaruhi keputusan Edo ketika memilih tempat tinggal. Belasan tahun lalu, ia memilih tidak mendirikan rumah di atas sawah produktif atau tanah hijau yang masih dapat digunakan untuk kehidupan lain.

Ia memilih tanah kapur di daerah yang lebih tinggi, dengan kontur naik turun dan pepohonan di sekitarnya.

Ketika membangun rumah, sejumlah kayu dari rumah lama digunakan kembali, termasuk bagian-bagian limasan dan joglo. Bentuk tersebut kemudian bertemu dengan pengalaman arsitektur rumah Sumatra Selatan yang dibawanya sejak kecil.

Ruang rumah juga dibuat agar cahaya dan udara dapat masuk sebanyak mungkin. Sebagian dinding dibiarkan menampilkan bata secara alami.

Rumah kemudian tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi cara untuk menempatkan diri terhadap tanah, pohon, cahaya, udara dan material yang telah lebih dahulu ada.

Tubuh sebagai Ekologi yang Berjalan

Dari pengalaman tersebut, gagasan ekologis kemudian bertemu dengan praktik artistik Edo Pop.

Dalam karya-karyanya, tubuh manusia kerap tidak memiliki batas tegas dengan lingkungan. Tubuh dapat berubah menjadi tanah, hutan, rumah, bukit atau lanskap yang hidup.

Tumbuhan, binatang, manusia, benda sehari-hari dan berbagai bentuk kehidupan dapat muncul dalam satu tubuh atau saling bertumpang tindih.

Bentuk-bentuk hibrida itu bukan sekadar upaya menghadirkan sesuatu yang ganjil secara visual. Bagi Edo, bentuk tersebut merupakan cara melihat kehidupan sebagai hubungan.

Manusia membawa lingkungan di dalam dirinya, sementara lingkungan ikut membentuk manusia.

Rumah masuk ke dalam ingatan. Binatang masuk ke dalam pengalaman. Tumbuhan masuk ke dalam kehidupan. Kebudayaan membentuk gerak tubuh sekaligus cara manusia memandang dunia.

“Tubuh akhirnya tidak lagi saya lihat sebagai batas antara manusia dan lingkungan. Tubuh menjadi ekologi yang berjalan,” ungkapnya.

Kearifan Lokal yang Hidup dalam Tubuh

Melalui proses penciptaan, Edo melihat pengetahuan tidak selalu datang dalam bentuk teori atau buku.

Pengetahuan dapat tersimpan dalam larangan orang tua, kebiasaan sehari-hari, pengalaman masa kecil, tempat seseorang tumbuh, cara memperlakukan makhluk lain, hingga keputusan sederhana ketika memilih tempat membangun rumah.

Apa yang dahulu dianggap biasa dapat kembali bertahun-tahun kemudian sebagai pengetahuan dan menemukan bentuk baru melalui praktik artistik.

Karena itu, Edo tidak melihat kearifan lokal hanya sebagai bentuk-bentuk lama yang dipajang sebagai warisan.

Kearifan, menurutnya, juga dapat hidup melalui nilai yang masih dijalankan, dipertanyakan, dibaca kembali dan kemudian menemukan bahasa baru sesuai pengalaman zaman.

Lokalitas pun tidak hanya berupa nama tempat, cerita leluhur, rumah tradisional, pakaian, bahasa atau bentuk budaya yang mudah dikenali secara visual.

Lokalitas juga tersimpan dalam tubuh: ingatan, kebiasaan, cara memperlakukan kehidupan lain, memahami batas dan menempatkan diri di tengah lingkungan.

Pada akhirnya, “Tubuh Ekologi” menjadi perjalanan untuk membaca kembali hubungan manusia dengan tempat asal, keluarga, alam, spiritualitas dan pengalaman hidup.

Tubuh yang hadir dalam karya bukan tubuh yang berdiri sendiri. Ia membawa rumah, kampung, leluhur dan pengetahuan tanpa harus mengulang masa lalu atau membekukannya menjadi dogma.

Seperti burung yang dahulu tidak boleh dikurung, tubuh juga mengajarkan tentang kebebasan.

Bagi Edo Pop, hidup bukan terutama soal memiliki, tetapi memahami batas antara diri manusia dan kehidupan yang lain.

“Mungkin di situlah kesadaran ekologis menemukan titiknya: bukan ketika manusia mulai berbicara tentang alam, tetapi ketika manusia menyadari bahwa dirinya sendiri adalah bagian dari alam yang sedang berbicara". ***

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Tubuh Ekologi, Ketika Edo Pop Membaca Relasi Manusia dan Alam Melalui Seni
  • Tubuh Ekologi, Ketika Edo Pop Membaca Relasi Manusia dan Alam Melalui Seni
  • Tubuh Ekologi, Ketika Edo Pop Membaca Relasi Manusia dan Alam Melalui Seni
  • Tubuh Ekologi, Ketika Edo Pop Membaca Relasi Manusia dan Alam Melalui Seni
  • Tubuh Ekologi, Ketika Edo Pop Membaca Relasi Manusia dan Alam Melalui Seni
  • Tubuh Ekologi, Ketika Edo Pop Membaca Relasi Manusia dan Alam Melalui Seni

Posting Komentar