Dialog Batik Madura di Surabaya: Malya Sasmaya Hidupkan Warisan Tradisi Lewat Kanvas
SURABAYA, NEWSPORTAL.ID – Pameran tunggal Dialog Batik Madura karya perupa muda Malya Sasmaya tidak hanya menghadirkan batik sebagai objek budaya, tetapi juga mengajak publik melihat kembali hubungan antara tradisi, ingatan, identitas dan perubahan zaman.
Digelar di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, pada 26 September hingga 1 Oktober 2026, pameran ini mempertemukan lukisan akrilik dengan kolase Batik Tulis Tanjung Bumi Madura.
Melalui sejumlah karya, Malya tidak sekadar melukis batik. Ia menghadirkan batik sebagai bagian dari percakapan visual tentang bagaimana sebuah warisan budaya dapat tetap hidup ketika bersentuhan dengan generasi dan zaman yang terus berubah.
Salah satu karya kunci dalam pameran ini adalah The Beauty of Batik Madura, berukuran 100 x 100 sentimeter. Karya tersebut menggunakan cat akrilik, kolase batik tulis Tanjung Bumi Madura dan lem akrilik di atas kanvas.
Karya ini juga dipilih sebagai poster utama pameran.
Di atas kanvas yang didominasi warna cokelat tua, Malya menempatkan selembar batik tulis Tanjung Bumi Madura asli. Kain tidak dipotong secara kaku, tetapi dibiarkan mengerut, berlipat dan mengalir dari sudut kanvas.
Kontras antara permukaan kanvas yang abstrak dengan batik yang sarat motif menjadi bagian penting dari gagasan karya.
Motif ayam alas atau phoenix pesisiran, warna soga, merah, biru, hijau dan kuning serta detail cecek pada batik berhadapan dengan ruang lukisan yang lebih kontemporer.
Karya tersebut seolah menjadi jawaban visual atas pertanyaan besar yang menjadi landasan pameran:
“Is culture something we inherit, or something we must choose to keep?”
Malya, yang sejak usia tiga tahun telah mengikuti berbagai kompetisi seni internasional, termasuk meraih Gold Medal di Macedonia dan mengikuti pameran di London, justru memilih menempatkan perhatian pada budaya yang berada dekat dengan tanah kelahirannya.
Pada usia 17 tahun, ia mengarahkan pandangannya kembali kepada Batik Madura dan menjadikannya sebagai sumber dialog artistik.
Merah yang Menjadi Suara
Karya lain yang mencuri perhatian adalah Merahnya Merah, berukuran 180 x 145 sentimeter.
Menggunakan akrilik dan kolase selarik ujung batik tulis Madura dominan merah di atas kanvas, karya ini membawa penonton masuk ke dalam eksplorasi warna.
Merah menjadi pusat perhatian.
Namun bukan satu jenis merah. Malya menghadirkan lapisan merah yang beragam, mulai dari merah getih, merah soga, merah bata, merah cabai hingga maroon.
Permukaan kanvas disusun melalui bilahan-bilahan horizontal dengan sapuan akrilik yang ekspresif. Di antara dominasi warna merah, muncul garis-garis lebih gelap seperti biru, hitam dan hijau.
Dalam karya ini, motif batik tidak ditampilkan secara utuh.
Motif justru dilebur ke dalam bahasa abstraksi.
Pertanyaan yang muncul kemudian bukan lagi mengenai bagaimana bentuk motif batik, melainkan apa yang tersisa dari batik ketika motifnya tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Jawabannya hadir melalui karakter warna dan gestur lukisan: keberanian, energi, kekuatan dan karakter pesisir Madura.
Merah dalam karya Malya menjadi semacam suara visual—warna yang tidak ingin hilang di tengah perubahan zaman.
Fragmen Ingatan tentang Batik
Berbeda dengan dua karya sebelumnya, Fragmen justru menghadirkan pendekatan yang lebih intim.
Karya berukuran 20 x 20 sentimeter yang terdiri dari 12 panel ini dikerjakan sepanjang 2025-2026 menggunakan cat akrilik di atas kanvas.
Tidak ada kain batik asli yang ditempelkan.
Keputusan tersebut menjadi bagian penting dari gagasan karya.
Setelah melakukan riset dan berinteraksi dengan warna serta karakter Batik Madura, Malya mencoba menerjemahkan pengalaman tersebut tanpa menghadirkan tubuh batiknya secara langsung.
Merah, soga, biru pesisir, kuning, dan hitam malam muncul melalui sapuan kuas, lapisan cat dan goresan yang ekspresif.
Dua belas panel tersebut tampil seperti kepingan-kepingan memori.
Setiap bidang menjadi fragmen pengalaman visual yang kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan.
Dalam konteks pameran, Fragmen menjadi semacam ruang untuk mengambil napas. Setelah penonton berhadapan dengan karya-karya berukuran besar dan material batik asli, karya ini mengajak penonton mendekat dan melihat lebih intim.
Budaya, dalam perspektif tersebut, bukan hanya sesuatu yang dapat disimpan sebagai benda.
Ia juga dapat tinggal sebagai ingatan, warna, pengalaman dan cara seseorang melihat dunia.
“Dialog Tanjung Bumi”, Pintu Masuk ke Percakapan
Sementara itu, Dialog Tanjung Bumi berukuran 200 x 180 sentimeter ditempatkan di pintu masuk Galeri Merah Putih.
Penempatan tersebut menjadi bagian dari bahasa kuratorial pameran.
Sebagai karya berukuran monumental, Dialog Tanjung Bumi menjadi salah satu karya yang langsung mempertemukan penonton dengan Batik Tulis Tanjung Bumi Madura.
Kain batik asli ditempatkan di tengah kanvas dan dibiarkan mempertahankan karakter visualnya.
Motif phoenix, sulur tanaman, cecek serta struktur tumpal dan papan parang tetap terlihat sebagai identitas tradisi.
Namun, di sekelilingnya Malya menghadirkan sapuan akrilik biru laut keabu-abuan.
Warna tersebut memberikan kesan ruang pesisir dan laut yang menjadi bagian dari lanskap Madura.
Di tengah karya terdapat goresan merah yang tebal dan kasar.
Goresan tersebut menjadi intervensi personal sang perupa.
Bukan sekadar ornamen, tetapi tanda bahwa generasi baru tidak hanya menerima warisan secara pasif. Ada proses membaca, menafsirkan, bahkan memberikan respons terhadap warisan tersebut.
Di sinilah dialog berlangsung.
Batik tidak ditempatkan sebagai artefak yang harus selalu berada dalam bentuk aslinya. Ia dipertemukan dengan bahasa seni kontemporer dan pengalaman personal seorang perupa muda.
Melalui empat karya tersebut, Dialog Batik Madura memperlihatkan berbagai kemungkinan hubungan antara tradisi dan seni kontemporer.
Ada batik yang hadir secara utuh, ada yang dipotong menjadi fragmen, ada yang dilebur ke dalam warna, dan ada pula yang diterjemahkan menjadi ingatan visual.
Pameran ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang keindahan Batik Madura.
Ia juga membuka pertanyaan tentang siapa yang akan menjaga warisan tersebut ketika generasi berganti.
Bagi Malya Sasmaya, dialog dengan tradisi tampaknya bukan berarti membekukan budaya di masa lalu.
Sebaliknya, tradisi justru perlu terus disentuh, dibaca ulang dan diberi ruang untuk berbicara dengan zaman.
Dialog Batik Madura berlangsung di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, pada 26 September hingga 1 Oktober 2026.***

Posting Komentar