Mengurai Perjalanan Sunyi: Lukisan Edo Pop tentang Beban Hidup dan Perjalanan Batin

Ket. Karya:
Mengurai Perjalanan Sunyi
100 x 120 cm
AOC
2026
NEWSPORTAL.ID – Sebuah lukisan tidak selalu lahir dari gagasan yang telah selesai. Kadang ia bermula dari potongan pengalaman, bayangan, ingatan, atau momen estetis yang singgah sejenak, kemudian menetap dalam pikiran dan perlahan menemukan bentuknya sendiri.
Gagasan itulah yang menjadi titik berangkat Edo Pop dalam karya berjudul “Mengurai Perjalanan Sunyi”, sebuah lukisan berukuran 100 x 120 sentimeter dengan medium AOC, yang dikerjakan pada 2026.
Dalam penjelasan kuratorialnya, Edo Pop menggambarkan proses melukis sebagai perjalanan yang tidak selalu memiliki arah pasti. Persepsi, intuisi dan imajinasi bekerja secara bersamaan, bahkan tidak jarang tangan bergerak lebih dahulu sebelum pikiran benar-benar memahami bentuk yang sedang tumbuh di atas kanvas.
“Bentuk tidak selalu langsung memberi tahu ke mana ia akan membawa saya. Justru dalam ketidakjelasan itulah kemungkinan-kemungkinan baru sering muncul,” demikian refleksi Edo Pop mengenai proses penciptaan karyanya.
Berangkat dari Kisah Sisyphus
Inspirasi awal karya ini berangkat dari kisah Sisyphus dalam mitologi Yunani, sosok yang dikisahkan harus terus mendorong batu besar ke atas gunung, tetapi batu tersebut kembali menggelinding ke bawah sehingga pekerjaan itu harus diulang tanpa akhir.
Namun, Edo Pop tidak semata-mata melihat Sisyphus sebagai simbol hukuman atau kesia-siaan.
Ia justru tertarik pada tubuh yang terus bergerak menghadapi sesuatu yang terasa lebih besar dari dirinya.
Dari bayangan tentang gerak tersebut, muncul sosok manusia dengan kepala yang tampak besar. Salah satu kakinya melangkah ke depan, sementara kaki lainnya berada di bawah sesuatu yang berukuran besar, seolah sedang menyangga sebuah beban.
Sepatu masih melekat di kaki sosok tersebut.
Bentuk besar yang berada di atas tubuh itu kemudian berkembang dalam imajinasi sang perupa menjadi sebuah “bungkusan” yang tidak memiliki isi tertentu secara literal.
Bungkusan tersebut justru dimaknai sebagai ruang tempat berbagai pengalaman manusia bercampur—ingatan, keinginan, kehilangan, kerinduan, kecemasan, harapan dan berbagai jejak kehidupan.
Beban yang Tidak Selalu Terlihat
Melalui karya ini, perjalanan manusia tidak hanya dipahami sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.
Manusia, menurut refleksi Edo Pop, membawa banyak hal sepanjang hidupnya. Tidak semuanya berupa benda. Sebagian justru tidak terlihat, tetapi ikut menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupan.
Ada pengalaman yang menetap menjadi ingatan. Ada kehilangan yang diam-diam terus ikut berjalan. Ada keinginan yang belum menemukan tempatnya, kecemasan yang sulit dijelaskan, serta harapan yang membuat seseorang tetap melangkah.
Semua itu seperti berada dalam sebuah ruang batin yang tidak kasatmata.
Dari situlah muncul gagasan tentang “perjalanan sunyi”.
Sunyi, dalam konteks karya ini, bukan semata-mata berarti berjalan sendirian. Seseorang dapat berada di tengah keluarga, sahabat, pekerjaan dan keramaian, tetapi tetap memiliki ruang batin yang tidak sepenuhnya dapat dimasuki orang lain.
Ada bagian dari kehidupan yang pada akhirnya memang harus dijalani sendiri.
Orang lain dapat menemani, memberikan arah maupun menunjukkan jalan, tetapi proses memahami diri tetap tumbuh dari dalam.
Bukan Membuang Masa Lalu, Tetapi Mengurainya
Salah satu gagasan penting dalam karya ini adalah tentang mengurai.
Bagi Edo Pop, perjalanan batin bukan sekadar usaha mencari sesuatu yang jauh, melainkan upaya melihat kembali apa yang selama ini memenuhi diri: keinginan, kebanggaan, ketakutan, keterikatan, ingatan dan berbagai gambaran tentang siapa diri kita.
Karena itu, perjalanan batin tidak selalu berarti mendapatkan sesuatu.
Kadang justru berarti mengurai.
Mengurai bukan berarti membuang seluruh pengalaman masa lalu. Masa lalu tidak mungkin begitu saja dihapus. Yang dapat dilakukan adalah melihat kembali simpul-simpul pengalaman tersebut, memahami mengapa sesuatu melekat dan mempertanyakan apakah semuanya masih perlu terus dibawa.
Ada hal-hal yang dahulu dianggap sebagai bagian mutlak dari diri, tetapi setelah perjalanan panjang ternyata hanya merupakan persinggahan.
Ada pula sesuatu yang pernah dikejar dengan sungguh-sungguh, tetapi kemudian disadari bahwa yang sebenarnya dicari bukanlah tujuan itu sendiri, melainkan perasaan yang dibayangkan akan muncul setelah tujuan tersebut tercapai.
Tubuh Sebagai Ruang Pengalaman
Dalam “Mengurai Perjalanan Sunyi”, tubuh manusia menjadi tempat berbagai pengalaman bertemu.
Tubuh tidak hanya diposisikan sebagai bentuk biologis, tetapi sebagai ruang tempat pengalaman, kesadaran, ingatan dan keterikatan saling berkelindan.
Ia membawa masa lalu menuju hari ini sekaligus membawa harapan menuju sesuatu yang belum diketahui.
Di titik ini, sosok manusia dalam lukisan tersebut menjadi lebih dari sekadar figur.
Ia menjadi representasi perjalanan manusia yang terus bergerak sembari membawa beban yang sebagian besar tidak terlihat.
Sisyphus dan Pengulangan Kehidupan
Edo Pop kembali kepada Sisyphus karena menemukan adanya kesamaan dengan pengalaman manusia sehari-hari.
Manusia jatuh, bangkit, berjalan kembali, kemudian berhadapan dengan persoalan yang terkadang terasa seperti pernah dialami sebelumnya.
Namun, setiap pengulangan tidak selalu berarti kembali sebagai orang yang sama.
Dalam proses kehidupan, pengulangan dapat melahirkan perubahan. Kesadaran dapat tumbuh perlahan. Sesuatu yang dahulu terasa begitu berat mungkin pada akhirnya dapat diterima. Sesuatu yang pernah digenggam erat perlahan dapat dilepaskan.
Jalan yang sama pun dapat memiliki makna berbeda ketika orang yang menjalaninya telah berubah.
Di sanalah pengalaman perlahan membuka hikmahnya sendiri.
Ketika Perjalanan Menjadi Pertanyaan tentang Arah
Karya ini kemudian bergerak lebih jauh, dari persoalan beban menuju persoalan arah.
Dalam kehidupan, manusia tidak hanya berhadapan dengan apa yang diinginkan, tetapi juga dengan pilihan-pilihan yang setiap hari dapat membawa seseorang mendekat atau menjauh dari sesuatu yang diyakininya.
Dalam refleksi Edo Pop, yang haq dan yang batil tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan jelas.
Keduanya dapat muncul melalui keputusan-keputusan kecil, cara seseorang memperlakukan orang lain, keinginan yang diikuti, maupun sesuatu yang dipilih untuk disimpan di dalam diri.
Karena itu, pertanyaan perjalanan akhirnya tidak hanya tentang ke mana tubuh pergi.
Tetapi juga:
Siapa yang sebenarnya sedang berjalan? Apa yang sedang dibawa? Dan ke mana langkah itu diarahkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari ruang tafsir yang ditawarkan karya “Mengurai Perjalanan Sunyi”.
Sebuah Perjalanan Pulang
Pada akhirnya, Edo Pop tidak melihat perjalanan sunyi sebagai perjalanan untuk menemukan sebuah tempat berhenti.
Ia melihatnya sebagai perjalanan untuk mengenali diri di tengah segala sesuatu yang datang dan pergi.
Pengalaman terus bertambah. Kehidupan terus bergerak. Namun, manusia perlahan dapat belajar mengurai simpul-simpul yang selama ini membuat langkah terasa berat.
Hingga akhirnya perjalanan tidak lagi semata-mata tentang membawa sesuatu menuju tujuan.
Ia menjadi perjalanan pulang.
Pulang bukan sekadar kembali ke sebuah tempat, melainkan ketika langkah, hati dan kesadaran perlahan menemukan arah yang sama.
Di titik itulah perjalanan panjang dengan segala pengalaman yang pernah dibawa mulai menemukan maknanya.
Melalui “Mengurai Perjalanan Sunyi”, Edo Pop tidak hanya menghadirkan figur manusia dan sebuah bentuk besar yang dibawanya. Ia menghadirkan ruang perenungan tentang kehidupan: tentang beban yang tak selalu terlihat, pengulangan yang membentuk kesadaran, pilihan yang menentukan arah, serta keberanian untuk mengurai apa yang selama ini dibawa dalam perjalanan.***
Posting Komentar